Mendongkrak Performa Supra X 100cc

Featured

Supra X Indranesta "BlackBox"

Supra X Indranesta "BlackBox"

Tulisan ini sudah Indranesta mulai sejak 19 Jan 09, namun belum di publish dikarenakan lebih fokus pada pemilihan oli di tulisan Uji Oli untuk Supra X , namun melihat trend diskusi pada komentar tulisan seleksi oli, maka Indranesta memutuskan untuk mem-publish tulisan ini dengan harapan topik diskusi seputar parts upgrade/variasi Supra X dan Honda bebek pada umumnya dapat lebih terarah. Selamat menikmati…

==

Well,

Baru saja bulan desember lalu Indranesta menerima kiriman motor Honda Astrea Supra X 2003 dari Jogja.

U know lah, Kalangan bebek Honda memang terkenal bermesin irit, tapi akibatnya berkarakter tarikan bawah agak lemot, selain itu jadi incaran maling2 dan begal2 seantero negri, jadi kesihan sekali bebek Honda yang tidak bisa ngibrit akan jadi mangsa empuk mereka untuk kemudian dijual jadi motor bodong atau dipreteli spare parts-nya.

Dahulu kala Januari tahun 2004 ketika motor ini masih gress Indranesta sempat mencoba motor priyayi ini berboncengan dengan adik yang kebetulan berbobot di atas rata2, dan memang sudah diduga, untuk sendiri saja susah tarikannya apalagi berdua, walhasil harus sabar mengurut gas dan membuka gas lebih lebar demi tarikan yang tak seberapa.

Sebenarnya, dari dulu Indranesta paling tidak mau pakai bebek Honda, ya praktis krn alasan di atas. Tapi apa daya, memakai Yamaha Crypton sudah terlalu lama, 12 tahun, dan bosan tentu saja, butuh kesegaran baru, alias mainan baru, selain itu kalau pun mau facelift dan variasi racing, tetap saja sudah bosan karena barangnya masih yang itu juga. Sesungguhnya tidak ada masalah dengan mesin dan penampilan crypton, selain body dan kaki2nya sudah sedikit hancur termakan ganasnya jalan, dan borosnya yang semakin bikin ga tenang, sementara turbo cyclone sudah tidak ada yang jual (yang dulu terpasang hilang entah dimana raib saat service), tarikannya sungguh memuaskan terutama gigi 1 dan 2, tapi ya itu top speed ga jauh2 dari 80-90km/jm, dan selama ini memang tidak butuh top speed tinggi2 amat, kan harian ini.

Back to Supra x, akhirnya, Indranesta kena tulah omongan sendiri, harus pakai Honda jenis Supra X, karena masih ada kebutuhan lain yang cukup besar, jadi kalau harus beli motor baru kantong bakalan terasa berat, padahal lagi naksir berat Kawasaki Athlete 125 atau Suzuki New FU 150, hiks…

Begitu motor tiba pertengahan Desember lalu, lansung kaget, Karena kondisi shock belakang ceper, alias anting aslinya diganti yang super pendek, tapi asik juga, krn nyonya Indranesta senang dengan hal ini, tapi kondisi per asli ini jg lumayanlah, ga parah amat. Sementara untuk tarikannya masih sama dengan yang dulu, krn servisnya msh yang rutin AHASS, oli jg pakai oli standar federal 20w-50, ya sudah…

Sementara kondisi body msh standar abis, cuma ketambahan jepitan barang tambahan di tengah.

Supra x ini Indranesta bawa dari DKI Jakarta ke Lampung dengan dinaiki berboncengan, menempuh jarak sekitar 200km + nyebrang selat sunda dalam satu hari, jadi seharusnya ada hal2 yang perlu dipersiapkan. Setelah perjalanan antar pulau ini Supra X akan dipakai memenuhi kebutuhan berkendara sehari2, dan harus bisa meladeni karakter berkendara Indranesta.

Maka ini lah langkah2 yang Indranesta ambil untuk meningkatkan keadaan di 3 aspek utama yakni (1), keamanan, (2). kinerja, dan (3). kenyamanan, sementara aspek keindahan (estetika) tidak masuk prioritas saat ini krn kebetulan masalah dana, pun Indranesta dan nyonya focus untuk masalah fungsi (utilitas) saja.

Keamanan :

  1. Ban – paling sebel kalau ban kempes, apalagi bocor di tengah perjalanan, apalagi jauh dari mana2, mendorong motor naik turun gunung sepanjang jalan Lintas Sumatra, no way! Indranesta tidak mau ambil resiko itu, So, Indranesta putuskan pakai ban tubeless depan belakang, pilihan ban jatuh pada merk Swallow, karena satu2nya merk local yang mampu menembus 4 sertifikasi internasional, ban merk lain mungkin max 3 saja, selain itu harganya di bawah yang lain, kualitas dan harga lulus, desain pun oke, Indranesta ambil yang tipe Sea Hawk 70/90 tubeless SB115, selain itu, klaim produsen tipe swallow yang ini model baru dan lebih siap untuk kondisi basah. Ketika Indranesta cek dan pasang pun, ternyata lebih empuk dr ban lain, ya semoga cocoklah dalam hati Indranesta. Depan belakang keduanya pakai 70/90 atau setara 2.50 (ban depan standarnya Honda Supra X memang 2.50 belakang 2.75), tapi karena pertimbangan tarikannya payah, dan Indranesta pengalaman pakai ban lebar itu boros bensin sebab tarikan jd makin berat apalagi boncengan jarak jauh dan mesin belum mampu menembus 60km/jam, maka Indranesta putuskan pakai 2.50 juga untuk ban belakang, dan sukurlah masuk (selain itu ngirit harganya juga kan) meskipun harus mengorbankan kestabilan trek lurus saat berboncengan. Karena pakai ban tubeless maka mau tak mau harus ganti velg racing (padahal ga perlu2 amat sih buat Indranesta, tapi technically harus), dan alamak, harga velg racing jauh lebih mahal dr ban tubeless. Tapi karena sudah bulat tekad, akhirnya dijalani juga, pilih punya pilih, akhirnya velg Valentino Rosi warna hitam model akar dengan cakram/disc lebar 30cm ala Satria FU150 yang jadi pilihan, sama sekali ga malu2in, malah tambah keren (ya iyalah), velg dengan disc 30 cm ini harganya tidak beda jauh dengan velg racing biasa yang tanpa disc (pakai disc bawaan motor kita). Total untuk ban+velg+pentil+pasang, habis 655rb. Update: 3 April 2010 ganti ban belakang dengan Corsa S123 tubeless 90/70, pertimbangannya, ban belakang tipis sdh mendekati 1.6mm, agak mengkhawatirkan dengan karakter berkendara spt Indranesta. Kenapa pakai Corsa? tadinya mau pakai swallow 90/70 stream atau x-worm, tapi harganya lebih mahal, setelah dipelajari lebih jauh Corsa (achilles) ini punya 3 jenis compound, cocok untuk ban belakang, selain itu punya alur air, dan pola tapak ban cukup mantap untuk menambah traksi, plus tipe S123 ini berkarakter soft jadi enak untuk boncengan & jalan berlubang+poldur, dan ternyata setelah dipasang memang lebih nyaman “menghajar” lubang + poldur, menikung pun lebih mantap, tampilan pun makin oke meski bbm jadi lebih boros n tarikan jadi lebih berat pastinya. Yang jelas nyonya sudah tidak komplain lagi kalau kena lubang & poldur tiba2 :)
  2. Kunci kontak – paling apes kalau dibobol pakai kunci T maling2 motor, apalagi merk Honda sudah jadi inceran dimana2, akhirnya Indranesta cari kunci kontak yang relative aman, tadinya mau pakai model dingdong yang bulat, tapi karena kondisi off nya mudah lepas maka Indranesta batalkan, ganti dengan model biasa tapi ada tutupnya (cover sliding) ala motor model baru, harganya relative sama, untuk ini Indranesta harus menebus seharga 50rb.
  3. Gantungan kunci – repot amat kalau kunci kontak sampai tercecer jatuh di jalan, apalagi jalan jauh, akhirnya Indranesta beli gantungan kunci yang bisa disangkutkan ke gantungan barang, total biayanya 7rb saja, tapi hati jadi lebih tenang, karena dulu pernah kunci jatuh dan tercecer, pusing nyarinya sepanjang jalan…
  4. Helm – untuk urusan kepala, Indranesta kali ini percayakan pada helm ½ face, kapok pake cakil yang super gerah n berat, repot pula buka tutup kalo di perkotaan, repot pula nyimpannya, mahal pula, apalagi yang model flip-up/modular. Akhirnya untuk helm utama Indranesta pilih merk Best1 warna polos silver dengan kaca helm pelangi, brand local, tapi punya harga dan performa lumayan, intinya semua busa dalamnya bisa dilepas untuk dicuci. Helm kedua Indranesta pilih merk WT D’smart  black dove dengan kaca helm warna hitam, helm ini tidak bisa dilepas busanya, masing2 helm lengkap dengan tas bungkusnya, untuk ini Indranesta suka tas bungkus WT Helm, lebih elegan hitam dan ada kunci talinya. Untuk semua helm Indranesta keluarkan dana 170rb saja, mungkin nanti akan Indranesta tambah dengan kaca helm yang model kaca film mobil yang aman untuk siang-malam seharga sekitar 35-50rb tergantung nawarnya. Update: heboh isu helm SNI emboss awal April ini cukup merepotkan, aparat belum siap, pedagang belum siap plus resah karena bakalan tidak bisa jualan non SNI lagi, plus rider juga repot cari helm SNI emboss yg harganya ramah di kantong. Jika harus ganti, saat ini belum ada bisa dipertimbangkan karena Indranesta cari yang punya lubang ventilasi besar depan dan belakang, modelnya standar half face saja plus pet/topi yg sangat berguna saat silau kena sinar matahari pagi/sore yang makin garang saja rasanya. Pilihan saat ini NHK Predator polos 250-270rb (tapi sayang kacanya bening, harus ganti yg siang malam) selain itu harganya lumayan mahal. Lainnya merk Gardio dengan fitur AirFlowTunnel utk bikin kepala adem, harga 190-200rb blm termasuk kaca/visor (bagus juga bisa sesuaikan selera). Update 1 mei 2010, pilihan lainnya, KYT Romeo 210rb polos, 250-260rb motif, & INK Terminator (naksir yg ini nih :) ) 270-280rb polos, keduanya kaca bening, bisa ganti yg adem u siang malam, tinggal nego saja dg yg jual.
  5. Sarung tangan –  ini untuk keamanan tangan dari goresan / luka saat terjatuh, juga pelindung dari panas matahari. Untuk ini Indranesta pilih model ½ (jari kelihatan) seharga 10rb saja, yang penting fungsinya berjalan baik, terakhir ini, diupgrade dengan sarung tangan serupa seharga 18rb, untuk perlindungan lebih baik. Update: April 2010 saat ini sedang mencari sarung tangan dengan pelindung/protector selain busa tapi ringan, sayang juga kalau terjadi apa2, maklum kita kerja lebih banyak dengan tangan kan? harga jelas2 di atas 50rb…
  6. Spion – ini penting juga, Indranesta repot pakai yang standar kalau dempet2an di lampu merah, juga pas masuk rumah, krn nyangkut di pintu, padahal lebarnya Indranesta puas sekali, akhirnya Indranesta pakai model variasi yang lebih kecil seharga 17rb dan tambahan spion kecil model F-1 di kabel gas seharga 5rb. Ini pun Indranesta masih jajaki kalau ketemu yang lebih oke kenapa tidak? Demi keamanan berkendara juga. Saat ini sedang menaksir spion standar CS1 atau spion Beat yang tidak melewati lebar setang, hanya saja untuk spion CS1 seharga 35-40rb/bh ini kosong di mana2, termasuk di supplier spare part level propinsi sekalipun, sedihnya. Apakah ini imbas pemasaran CS1 yang kurang bagus? Jika demikian maka pilihan second best ada di spion Honda Beat seharga 40-45rb/bh. Sampai tulisan ini dibuat, masih menunggu kabar dari AHASS atas ketersediaan spion CS1, katanya kalau mau inden harus pakai STNK CS1, nasib. Namun pada Agustus 09 masuk Honda new Beat dg spion mirip CS1 namun lebih pendek, maka Indranesta memutuskan untuk memakai spion ini saja, namun masalah ketersediaan part masih jadi kendala. Semoga saja dapat… Update: Dan sudah didapat pada Desember 2009, spion Honda CS1, sungguh sulit menemukannya. Spion kiri dapat di Ahass kota Bandar Lampung harga 35rb, dan Spion kanan dapat di Ahass Kota Metro hrg 50rb. Puas rasanya. Mekanis Ahass juga bilang hasilnya bagus dipasang di Supra karena karakter spion CS1 lebih turun jadi area pantulan lebih lega dan lebih aman. Sempat ditawari bengkel pakai spion model koso yg lagi in tapi males, karena permukaannya kurang luas, pandangan terbatas, kurang aman, meski cakep, selain itu sudah banyak yg pakai, plus banyak palsunya mulai 35rb – 300ribu lebih.
  7. Minyak Rem Dot4: kuras minyak rem Feb 2010, karena rasanya rem tidak pakem lagi dan kaku. Jasa 8rb + 2 botol minyak rem 2x 6rb. Di bengkel Ahass  langganan.
  8. Klakson: standar 2 buah+relay. awalnya pakai relay biasa harga 12rb, tp cuma bertahan beberapa bulan jebol, ganti relay merk Hella 35rb tapi malah konslet karena masangnya tidak pakai dudukan, jadi pas dicuci air masuk ke relay (banjir). Update: April 2010 Sekarang posisi relay sudah aman, kecil kemungkinan air masuk. Ganti klakson baru model standar, bawaan motor asli dilepas karena bunyinya “cemen:) n baru tahu kalau klakson spt ini bisa distel nadanya, pakai dua jadi stereo, intinya orang segera minggir plus bunyinya beda sendiri…
  9. Kaliper: Update : 26 April pasang kaliper satu piston cakram depan milik Honda GL Pro sang legendaris, harga 175rb dg pasang (harus buat dudukan baru ke tukang bubut, perlu waktu seharian). Efeknya, rem jadi lebih pakem tapi empuk, moga2 saja lancar selanjutnya n gak macet seret lg pistonnya, amin. Bentuknya jadi lucu pas dipasang di cakram lebar ala satria fu, mungkin lebih manis kalau pake kaliper brembo 4 mini piston ya, tapi harganya 250rb lumayan jauh bedanya dg GL Pro, secara indranesta ga yakin 4 piston bisa bekerja optimal dg master rem bawaan supra, selain itu kampasnya juga lebih mahal harganya, kampas ori GL Pro cuma 20rb saja… Tapi kalau nanti masih penasaran dg kaliper brembo2an itu ya nabung dulu lah… :)

Waiting List:

  1. Rem cakram belakang – hal ini masih dalam pemikiran, mengingat harga yang bervariasi tiap bengkel antara 400-800rb, ada yang pakai full part local campur cina, ada yang pakai Nissin sebagian, nissin juga ada yang KW1-2 dst, ada juga yang focus di adaptor mahal. Ada bengkel yang berani memberi garansi satu minggu, dua bulan, sampai satu tahun service. Selain ini factor kemanan yang cukup vital baru-baru ini Indranesta melihat sendiri di bengkel ada Honda Karisma yang hancur depan dan stangnya setelah nabrak belakang mobil box gara2 rem cakram belakangnya blong, Indranesta sendiri mencoba injak rem nya dan memang blong, cukup shock juga dengan fakta ini tetapi yang cukup melegakan bahwa yang membawa Karisma tersebut cewek dan motornya terlihat sangat kurang terawat, oleh karenanya masih dalam pemikiran. Update: April 2010 Masih ada tawaran pakai Nissin kw2 harga 430-450rb per set,  desain cakram atraktif 3 lubang.
  2. Ban upgrade – secara saat ini Supra X Indranesta tenaga dan putaran bawahnya sudah lumayan oke, maka dimungkinkan upgrade ban ke level berikutnya, yakni: Depan 70/90 (2.50) – belakang 80/90 (2.75). rencananya jika salah satu ban skg sudah tipis akan diganti yang 80/90. Kemudian jika masuk koil+CDI maka naik ke level berikutnya yakni depan 80/90 (2.75) – belakang 90/80 atau uk. 3.00.  Taksiran ukuran ban baru 90/70 belakang, depan 80/70.
  3. Asuransi – secara ini merk Honda, masih ada kemungkinan hilang, dan masih ada kemungkinan kecelakaan meski sudah diamankan sedemikian rupa, akhirnya Indranesta simpulkan, motor ini butuh asuransi. Tapi pilihannya masih dalam penjajagan. Tunggu updatenya yah…
  4. Alarm motor, fungsi utama anti maling, bisa di off dari jarak 500 meter, harga sekitar 200-250rb. bisa on/off dari jauh, bunyi bisa diset juga. Masih dipertimbangkan.

Kenyamanan :

  1. Center Box : Hampir di setiap kesempatan Indranesta berhenti, parkir, servis, atau berteduh selalu ditanya orang soal center box ini, termasuk para mekanik. Unik katanya. Banyak yang bilang baru melihat box jenis ini. Padahal center box ini dulu sempat jadi trend sebelum wabah rear box, mungkin karena terlindas oleh demam rear box maka center box ini jadi tidak laku. Terus terang Indranesta juga cukup sulit mencari toko yang masih menjual barang ini, pas ketemu juga tinggal satu-satunya yang kebetulan cocok untuk Supra X. Harga 90-115rb. Fungsinya cukup banyak, antara lain:
    1. Penyeimbang berkendara, serasa naik motor laki, karena ada semacam tangki di antara kaki, membuat kaki lebih stabil, dan menurut keluarga tampilannya jadi jantan.
    2. Posisi berkendara jadi lebih baik didapati dengan center box ketika ganti footstep underbone
    3. Fungsi carrier yang baik, tidak perlu lagi tabung mantel, selain itu box ini muat menampung sarung tangan, botol minum, masker, gembok cakram, topi, 2 tali bagasi kecil, kick starter, 1 tali bagasi besar dg kode nomor pengaman ala koper, kunci pas besar 4 cabang, dompet kunci2+spare part cadangan, tali raffia, tas kecil, dokumen, jaket, buku2, dan juga belanjaan kecil2 lainnya, sangat menolong kala hujan dan banyak bawaan.
    4. Mempermanis tampilan, ada ruang tambahan untuk menempelkan sticker.
    5. Tutup box cukup landai dan bisa untuk duduk anak2 di bawah 10kg.
    6. Dilengkapi kunci pengaman.
    7. Anti air/hujan
  2. Braket box belakang : seharga 65rb, warna hitam solid.
    1. Pertama, kalau mau pakai rear box, tinggal pasang saja. Indranesta pilih braket non geser karena kurang manis dilihat kalau sedang tidak pasang box sebab rel gesernya cukup menggangu pemandangan,
    2. plus kalau boncenger bawa tas punggung spy tidak berat n repot bisa disandarkan ke braket ini,
    3. braket ini juga penyeimbang beban belakang supaya tidak terlalu ringan,
    4. selain itu tampilan juga lumayan kompak senada bodi dari besi ori krom ke hitam solid.
    5. Nilai plus ketika harus membawa barang seperti dus, beras, tas besar, dll braket ini sangat-sangat membantu, cukup diikat dengan 2 tali bagasi sudah cukup kuat, dan tidak mengganggu posisi boncenger. Kalau masih kurang bisa diikat dengan tali plastic raffia yang siap sedia di dalam center box.
  3. Shock belakang : Anting asli kembali dipasang, untuk menormalkan riding height dan mengamankan knalpot dari polisi tidur. Shock Supra ini cukup empuk kalau boncengan, Cuma kalau sendirian terasa agak keras dan mentul2 terutama di polisi tidur, masih mikir2 apakah ganti shok lain yang lebih empuk ya, pilihan saat ini antara shock Bajaj XCD 125 dual spring 400rb/bh, Shogun 110cc lama @150rb, Shogun SP dengan pengatur oli otomatis @180rb, atau GL Pro Neotech rata2 160-200rb/bh yang semuanya terkenal empuk. Tidak pakai shock variasi / racing karena justru lebih keras meskipun tingginya bs disetel. Cuma, u shock motor laki apa cocok ya pasang di bebek, soale mungkin saja empuk karena di motor laki tp pas pasang di bebek malah keras karena struktur bodi dan standar bebannya beda. Tapi herannya bengkel AHASS malah menyarankan pakai shock Honda Win seharga @160rb, katanya rebound-nya bagus meski panjang. Jadi bahan pemikirian saja dulu. Update: April 2010 – Indranesta saat ini sedang cari shock yang cocok utk harian dan boncengan, teringat mantapnya shock geser ala Astrea Prima dulu, tanya bengkel yg KW harganya 150rb sepasang, belum cek Ahass, juga belum cek pasar loak, fungsi geser2nya cukup praktis, tapi panjangnya masuk tidak ya ke Supra X? merk lain yg baru Proliner, tapi belum nemu referensinya selain iklan.
  4. Footstep Undebone: non-merk harga 80rb+pasang. Perlu membiasakan dengan gigi congkel. Ada harga ada mutu, footstep ini pernah lepas kait congkelan giginya untung saja msh ketemu+bautnyadi pinggir jalan, juga batang tuas pemindah giginya sering goyang, dan sekarang agak bengkok saking tipisnya. Kata bengkel yg pasang cuma supra x Indranesta yg msh bisa bertahan >6bl pakai brg ini, user lain sdh pada hancur/rusak. Update: April 2010 – Selama ini belum menemukan footstep UB yg kualitasnya lebih bagus, akhirnya maret lalu ada yg jual harga 150+25 pasang merk SND tuas congkelan gigi 2 pieces, platnya jg lbh tebal, ada lagi yg jual 130rb merk CLD (asli apa kw ya?) tapi belum lihat barangnya. Fungsinya benar2 praktis karena menopang kaki dengan enak dan nyaman, terutama saat speeding dan cornering.
  5. Mantel/Jas hujan: warna merah untuk berboncengan dengan 2 kepala. Seharga 40rb. Sudah sulit mencari yang model seperti ini sekarang, entah kenapa. Update: April 2010-Nyonya agak kurang nyaman dengan 2in1 ini, akhirnya kembali ke model jaket+celana, tinggal cari platik bungkus sepatu meski berat n harus tambah 2 tabung mantel di braket belakang selama musim hujan.
  6. Tabung serbaguna: Dipasang saat diperlukan saja, ada 2 buah, bisa dilepas2, dipasang jika perlu, di besi pegangan kiri dan kanan atau di braket. Bisa diisi mantel, botol air minum atau barang lain jika touring.
  7. Aki: GS Genuine MF (mintenance free) jenis kering harga 120-130rb – aki lama MF juga merk gak jelas, tapi tahan satu tahun harga 135rb. Tadi sempat dicek cas-an motor ke aki dg multitester oleh bos bengkel, ternyata hanya sekitar angka 5-6 saja, padahal kebutuhan cas sekitar 12, tercapai ketika mesin di rpm tinggi atau speed 80kpj. Langkah antisipasi panasi motor minimal 15 menit tiap pagi, efeknya aki bisa tahan s/d 2 tahunan. Layak dicoba…
  8. Tool kit (kunci baut/mur): seperti kunci inggris mini, kunci L set, kunci palang 4, amplas, obeng2, tang, busi & bohlam cadangan, posisi di center box. sedangkan kunci busi dll toolkit standar supra ada di bawah jok.
  9. Tali Bagasi: yang kecil2 ada2, yg besar/lebar 1 dg kode pengaman ala koper, berguna saat harus bawa barang2 ekstra besar/berat. Posisinya di center box.
  10. Pembersih: mini kanebo, lap kering, posisi di bawah jok, berguna saat kehujanan di parkiran/setelah dicuci
  11. Tuas/handle rem: merk lupa, warna chrome, ada setelannya 1-4 utk atur empuk-keras, jauh-dekatnya jarak handle, sangat-sangat-sangat berguna, apalagi rem depan supra terkenal keras/bantat, setelah pakai ini, nyaman n empuk sekali :)
  12. Hanfat/handgrip: Toyo, semi logam, nyaman digenggam, harga 45rb-55rb, hanya perlu penyesuaian, pegal2 rasanya di awal, tapi lama2 terbiasa jg.

Waiting List:

1. Jaket rider, cari yang tidak panas, tapi cukup kuat menahan angin, tidak perlu yang anti air, karena ada mantel. Naksir model air flow, penasaran DTMC yang di tangerang…

Kinerja :

  1. Pelumas : untuk ini Indranesta masih melakukan pengujian sampai ketemu yang cocok untuk karakter Indranesta dan mesin Supra ini, sementara masih dilakukan pengujian/seleksi oli untuk menemukan yang paling cocok. Link: http://indranesta.wordpress.com/2009/02/10/seleksi-oli-bebek-–-honda-supra-x-100cc/
  2. BBM: Pertamax 92 + Katalis Broquet B1 seharga 80ribu model celup ke tanki, bisa bertahan s/d 40.000 km klaim penjualnya. Lumayan nambah kompresi, secara di Lampung tdk ada Pertamax plus 95, tarikan n pembakaran jadi yahud
  3. Spakbor: dengan diganti spakbor Yamaha Jupiter MX seharga 35rb warna hitam yang lebih ringan dan ramping, ini akan membuka alur udara lebih besar ke filter, dan mendapatkan pendinginan lebih baik untuk sirip mesin salain itu perombakan minimal ini mendongkrak penampilan cukup drastis, karena Indranesta lihat ciri khas Supra X adalah spakbor depan khas bebek Honda yang membulat terkesan sedikit gemuk dan lamban serta menutupi aliran angin ke filter. Sementara yang lain sudah lumayan seperti headlamp dan body.
  4. Filter Udara: seiring dengan pemasangan spakbor depan, maka filter udara juga perlu sedikit diubah, cukup dengan melepas busa filter saja, dan menambahkan silica gel (penghilang kelembaban) untuk menyerap uap air berlebih yang ada di box filter sebelum masuk ke karbu/mesin. Hasilnya, udara semakin lancar masuk ruang pembakaran seiring dengan betambahnya kecepatan, ini menghasilkan campuran pembakaran menjadi miskin bensin dan kaya udara di rpm menengah. Efeknya ketika putaran gas dipasang konstan di rpm tertentu maka kecepatan bertambah dengan sendirinya, hasilnya bbm semakin irit dan kinerja bertambah dengan mengurangi part busa filter. Tapi resikonya, jika udara terlalu kotor/polusi maka bisa berpengaruh pada kinerja mesin karena kotoran langsung masuk mesin dan tidak lagi bisa disaring oleh busa filter.
  5. Nitrogen: angin ban, dengan biaya 8-10rb sudah bisa didapat di bengkel mobil yang cukup besar, tekanan saat pasang baru depan 30, belakang 40. Efeknya:
    1. Tekanan ban stabil dalam jangka waktu lama, klaim pihak bengkel bahkan bisa sampai masa ganti ban, tetapi Indranesta merasa setiap 4-6 bulan sekali sebaiknya diganti nitrogennya.
    2. Lari kendaraan menjadi lebih baik, tidak harus sering mampir tukang angin untuk control tekanan ban (biasanya setiap 2 minggu apalagi jika musim hujan).
    3. Gear+rantai jadi lebih awet karena beban kerja yang stabil dari tekanan ban.
    4. Update: nitrogen ban belakang baru 90/70 = 50 psi
  6. Gear: depan turun jadi 14 dari 15 harga 10rb, belakang std 40, otomatis koefisien kecepatan menurun dari standarnya (15/40), namun akselerasi sedikit naik, jadi makin pede naik turun bukit. Rencananya jika nanti jadi ganti CDI dan Koil racing, rasio gear akan dikembalikan standar lagi 15/40 namun dengan merk Sinnob+rantai DID seharga 300rb, Indranesta masih menabung untuk menebus semuanya. Update: rencana ganti gir depan 13, mau ngetes akselerasinya sejauh mana. 22 April 10 sudah ganti gear 14 jadi 13, harga 17rb incl pasang. sekalian bersihkan area sekitar gir depan, kotor banget! Hasilnya, tarikan tambah maknyus! enteng dari gigi 1-4, tapi jangan harap top speed bagus, malah turun banyak, tapi gapapalah yg penting akselerasi stop n go + nanjak jago. Update 27 April: Efek turun mata gir depan terasa, top speed anjlok, gigi 3 max 80kpj, gigi 4 max 90 kpj, tp kenapa rasanya serem ya lari sekencang itu? plus tarikan bawah, gigi 1-2 dahsyat, selalu terdepan kalo di lampu merah, motor lain ketinggalan jauh, jadi serasa nostalgia pas bawa crypton,  paduan dg gas spontan daytona benar2 cocok rasanya.
  7. Kop+Kabel Busi: Splitfire – 25-40rb. Bahan kepala busi anti percikan air, terbuat dari semacam karet yang fleksibel. Karena mekanis Ahass tidak bisa menyambungkan ke koil maka kabel dan kepala busi racing ini disambung ke kabel busi lama, jadinya panjang sekali. (Indranesta heran juga, apa panjang kabel ini bukannya bisa menurunkan kualitas pembakaran? Mungkin perlu dicoba sambung langsung ke koil ketika ganti koil nantinya)
  8. Busi: Awalnya busi standar diganti Jumbo racing seharga 12rb, busi ini punya elektroda lumayan kecil dan focus, namun setelah melewati 4000km dirasa kinerjanya menurun, sehingga diganti busi emas GSP (Gold Spark Plug) harga 35rb (Juli 2009), titik elektrodanya lumayan besar, melebihi standar, namun tenaganya bukan main mantapnya. Untuk tahap awal Indranesta puas dengan busi ini. Berikutnya cincin/ring busi dilepas untuk mendapatkan pengapian yang lebih baik, sebelumnya warna kepala busi sedikit memerah meskipun belum merah bata. Update: 14 Sep 09: busi dicek untuk dilihat hasil pembakarannya, warna elektroda menjadi sedikit kemerahan (mirip merah bata) dan tidak basah,  dan terbukti tarikan memang lebih mantap, tetapi ada sedikit lapisan hitam2 di tempat ring seharusnya berada, mungkinkah ini oli atau bbm?. 12 April 2010 ganti busi Denso Iridium 0.4mm harga 90rb, tarikan mantap, hal ini karena busi lama (GSP)  basah n tdk bisa akomodir kebutuhan motor lagi bahkan pernah beberapa kali mogok pas hujan n habis cuci. Masih penasaran dg busi platinum series n TDR balistic series seharga 17-25rb.
  9. Knalpot: custom, model dual flow, warna silver. Merk lain yang diincar adalah Hung, Nobi triovale DB killer, AHM turbo cyclone (made in Malaysia). Akhirnya pada awal Juli 2009 bisa ganti dengan Nobi Triovale AL series dual sound seharga 210rb warna hitam. Bisa dilepas db killer-nya dengan penambahan sedikit akselerasi, tapi suaranya jadi ekstra keras, kasihan yang dengar, tapi enaknya kendaraan di depan pada minggir kasih jalan. Knalpot nobi ini cukup membantu ketika harus naik turun perbukitan, masih bisa lari di atas 60kpj di sudut tanjakan 45 derajat lebih. Awal 2010 ini sedang mencari info Nobi 3Bold karena adanya tutup (cover) pelindung panas untuk kaki, karena Nobi triovale yang sekarang sudah makan korban beberapa celana kerja yang bolong dan gosong plus membekas di knalpot, maklum, pakai footstep underbone jadinya posisi ujung celana pas di leher knalpot yang tak terlindung. Update: 1 April 2010 – sudah ganti Nobi 3bold silver harga 250rb, db killer terpasang, tarikan khas nobi, suara lebih halus karena saringan db killer juga lebih halus, selain itu fitur cover anti panas cukup membantu.
  10. CDI: Akhirnya pada 13 Feb 2010 Indranesta mengganti CDI dengan Varro, seharga 80rb. Tujuannya sederhana, ingin membuktikan kehebatannya dan menambah tenaga karena roda depan seret setelah ganti kampas baru, itu saja. Proses penggantian sangat cepat, tinggal copot yg lama n pasang yg baru. CDI ini ada garansi dua bulan. Pertama dicoba terasa sedikit beda, lebih stabil putaran mesinnya. Sempat tanya mekanik senior Ahass soal CDI unlimiter ini, katanya mesin tidak jebol, tapi kuatir keenakan nariknya jadi lupa keselamatan. Jadi harus ekstra hati2 nariknya. Sementara performa motor tidak naik drastis, hal ini jelas dikarenakan hambatan di rem cakram depan yg baru saja diganti kampasnya, jadi masih seret, mungkin sekitar sebulanan baru terasa pengaruhnya. Setelah cakram beres, barulah terasa efeknya CDI varro, enak juga tarikannya, paling enak pas start pagi, sebentar saja sudah langsam sempurna, akselerasi bertambah meski top speed tidak begitu berpengaruh, langsam sempurna juga didapat saat mesin distart dalam kondisi dingin atau setelah kehujanan, tidak perlu lagi pemanasan lama2, langsung ngacir. Jadi, kl ada keluhan mesin Supra X susah start di suhu dingin/pagi, mungkin ganti CDI bisa jadi solusinya :)
  11. Upgrade PJ: (pilot jet) ukuran 40 merk Veezumi, harga 20rb+15rb ongkos pasang & stel karbu. Hasilnya tarikan sedikit tambah enak, sedikit tambah spontan, dan pastinya tambah boros… karena seringnya keenakan narik gas jadi lupa ngirit.  Top speed sepertinya tetap tapi akselerasi lebih cepat. Efek lainnya stasioner mesin jadi agak kacau, kalau nutup gas di lampu merah or berhenti sering mati sendiri mesinnya, sudah dua kali stel ulang angin karbu tapi masih sama kondisinya. Apakah perlu ganti MJ (main jet) juga? masih dipertimbangkan, tapi jika hanya menambah boros lebih baik dikembalkan ke standar saja… alasan penggantian ini untuk menguji efek tambahan suplai BBM ke mesin, hanya dilakukan pada PJ karena mesin masih standar, lain halnya jika mesin upgrade baru dinaikkan juga MJ nya minimal satu step. Efek lain yang terasa adalah bau asap kenalpot seperti lebih “basah” alias banjir BBM, dan ini juga diamini mekanik senior Ahass langganan. Masih dicoba satu periode oli lagi jika masih tidak nyaman maka akan dikembalikan ke standar PJ nya. 28 Maret ’10 kembali lagi ke standar PJ dan hasilnya stabil dan aman2 saja, stasioner mantap, meski tarikan tak seenak PJ 40 tapi bbm pun makin irit, sip. Sementara MJ tidak perlu naik/diganti selama belum ada upgrade dalaman mesin (oversize). Update: awal April, PJ kembali normal, tarikan normal lagi, bbm irit lagi.
  12. Gas spontan : Indranesta merasa perlu pakai gas spontan karena malas ngurut gas lama2 saat naik turun bukit, apalagi pas buru2, jadi cari gas spontan saja, tidak perlu pakai engine cut on/off+electric starter, yg jelas harus 30%-60%. Merk yg ada di pasaran macam2, juga kw nya banyak, bungbon, domino, termignoni, kitaco, TDR, CLD, tinggal pilih, tapi di Lampung sini belum ketemu yang cocok. Harga kw rata2 <100rb, asli bisa sampai jutaan. Update: 12 April 2010 pasang gas spontan Daytona harga 70+15 pasang, tanpa on/off mesin, tanpa starter mesin, sudutnya kecil <60 derajat, tapi jadi berat nariknya, sudah tdk perlu ngurut gas lagi sekarang…

Nobi triovale AL series dual sound with DB killer black on Supra X Indranesta

Waiting List:

  1. CDI : Jika masih kurang, CDI Racing XP 202. or yang dual stage (normal+racing), atau CDI Varro unlimiter 80rb bisa jadi pilihan. Tapi kalau dilihat dari harga bisa jadi Varro duluan yg akan dipakai, dengan resiko mesin jebol kalau tidak hati2 nariknya.
  2. Koil racing – Yoshimura 125-150rb, XP 150rb, Blue thunder 150-170rb, melihat uji tes di tabloid perbandingan koil racing mungkin pilihan jatuh ke koil Kitaco 125rb
  3. Spuyer/jetting set: Ganti pj/mj upgrade, hanya saja masih dipikirkan perlu-tidaknya. Update: Mungin ganti MJ naik satu angka, karena lebih terpakai di topspeed. Menunggu saat servis kalau ini.
  4. Hydrogen booster–100-150rb lebih irit. harga naik jadi 200rb kalau tdk salah.  http://www.hydropower66.blogspot.com/ atau HG power http://www.hg-power.com/ seharga 300rb atau HCS system ala pakdebin kaskus 90-100rb http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1456419 HCS ini tidak pakai air tapi premium/pertamax jadi tdk bikin tekor aki harga pun lebih murah, tapi harus jebol leher intake & tutup tanki, tulisan ttg HCS bisa didapat disini http://penghematbahanbakariritabis.blogspot.com/
  5. Gear set Sinnob–300rb warna hitam, free delivery DKI. Saat ini kondisi gear dan rantai menurut mekanik AHASS masih memadai dan belum perlu diganti. Kalau pun jadi ganti mungkin juga harus ganti cover rantai, dan gear depan tidak dipasang karena terlalu tebal.
  6. Kiprok/regulator: aslinya 100rb lebih, tapi yang penting bisa charge accu MF minimal 10v supaya lebih kuat n awet
  7. Per & kampas kopling: pasangan di kopling utk akselerasi spontan dan anti drop power saat naik gigi. Tipe semi racing diperlukan utk supra x yg tdk pakai kopling manual. Hal ini disarankan sama bengkel pasang per kopling racing yg keras untuk nambah akselerasi & mengurangi drop tenaga saat shifting/naik gigi (memang terasa ada loss!), seharga 80-125rb. pilihannya ada bbrp, tp setelah hunting2, cari yg agak empuk n tidak terlalu “loncat” jd cocok dg supra x yg tanpa kopling manual, merk pilihan yg ada yoshimura n kitaco harga 75-100rb. Apakah perlu ganti kampas kopling juga? kita lihat nanti…
  8. Upgrade mesin step 1: jika masih kurang dan ada dana, mungkin perlu upgrade mesin, tipikal akselerasi/torsi terjaga dari bawah sampai atas, mesin square/seimbang, port polish intake n exhaust, dan semacamnya. Sekali lagi, kalau perlu saja…

Plus : Penampilan : tema Black Box, Indranesta usahakan semua part yang terpasang berwarna hitam senada. selain bermaksud untuk mengumpulkan panas karena mesin Honda Supra X ini berkarakter dingin, warna hitam juga akan membuat motor ini terlihat tidak “entengan”.

  • Sticker-signs – yang paling penting dr sticker adalah fungsinya, yakni sebagai penanda, peringatan, pemberi tahu, bukan sekedar pemanis. Sticker standar pabrik tentang kode angin ban, jarak main rantai, dan penggunaan spare part AHM ori Indranesta pindah ke bawah jok karena sticker ini cukup penting tetapi tidak harus selalu terlihat. Sementara sticker pemanis ada pada logo Honda di atas batok lampu dan di samping cover gear depan kiri, text “Daytona” warna hitam pada swing arm silver, text “Yoshimura” pada body samping mewakili koil dan handle grip yang dipakai, text “Splitfire” pada spakbor depan mewakili kepala busi yang dipakai. Sedangkan sticker lainnya lebih pada factor pendukung kemanan, kenyamanan dan kinerja juga, contoh:
    1. sticker “Bismillah” warna kuning terang di bawah speedometer memberi tahu siapa pun yang memakai motor ini supaya jangan lupa baca doa sebelum berangkat.
    2. sticker “Pertamax Only” di atas center box memberi tahu siapa pun yang memakai motor ini supaya jangan salah bahwa isi bensin harus minimal pakai pertamax.
    3. sticker “Nitrous Tires” di kiri spakbor memberi tahu siapa pun yang memakai motor ini supaya jangan salah bahwa isi angin ban harus pakai nitrogen.
  • Cover Scott Light bodi samping, untuk menutup sticker asli, karena dikomentari oleh keluarga kalau tampilan sudah jantan tapi masih ada tulisan Supra X di bodinya J. Lantas ada rencana menutup bodi samping dengan scott light polos warna hitam, dan ditambah dengan motif.

Tulisan ini masih jauh dari sempurna, mohon komentar, masukan, dan saran serta diskusi dari rekan2 biker, dan tulisan ini masih akan diupdate terus, karena mendongkrak performa Supra X belum berhenti sampai di sini, dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi rekan2 biker pemakai Supra X.

Update Desember 2009: Ganti spion dengan milik Honda CS1

Update 13 Februari 2010: Ganti kampas rem AHM + Ganti minyak rem DOT4 + CDI Varro (info lengkap silahkan cek di masing2 kategori : kinerja dan keamanan di atas), tks.

Untuk foto dari beberapa sisi sedang diusahakan, jadi mohon rekan2 biker bersabar, tks.

Update 28 Februari 2010: Ganti PJ ukuran 40 merk Veezumi dan stel angin karbu + ganti relay klakson merk Hella karena yang lama mati. Masalah cakram sudah beres, CDI Varro lebih terasa tenaganya

Update 28 Maret 2010: Ganti accu (aki) karena soak alias matot dg GS genuine MF dan Pasang kembali PJ standar 38. ==> pls check detail di atas…

Dalam waktu dekat: gear depan turun jadi 13 (uji akselerasi) + ganti knalpot Nobi 3bold series silver + ban 90/70 belakang corsa s123 atau swallow atau Duro (masih survey tapi sudah positif ganti karena mendesak, ban belakang sudah tipis — dalam tapak <1,6mm) + spakbor MX ganti merk yang lebih bagus/tebal karena yang lama retak tidak tahan getaran ban, jalan, dan angin.

Update 11 April 2010: Sudah ganti knalpot Nobi 3bold silver, ganti ban belakang dengan Corsa S123 tubeless 90/70 (lebih lebar), ganti spakbor MX baru karena yang lama retak. Silahkan temui detail di atas… selain itu Indranesta sedang mempertimbangkan HCS (hidrogen booster) karena tarikan tambah berat setelah ganti ban lebar. Selain itu PJ sudah dikembalikan ke standar dan sudah distel ulang karbunya, rasanya mesin sangat melegakan, stasioner tidak masalah lagi, iritnya kembali lagi meski tarikan tidak sehebat waktu pakai PJ40 (well, you win some, you loose some)

plus tulisan faktor keamanan soal gas spontan, helm SNI emboss berventilasi, shock belakang, dan upgrade footstep underbone.

Mungkin senin 12 April foto2 terbaru dari beberapa sudut akan hadir, memenuhi permintaan rekan2 biker sebelumnya… :)

 

masih kurang? :)

Update 20 April 2010: kinerja motor

Sudah seminggu pasang busi Denso Iridium 90rb, gas spontan Daytona seharga 70+15 pasang. Klakson baru model standar 25rb, grip goyo 50rb, Adjustable handle rem 28rb, silahkan simak tulisan2 terkait di atas :)

Update 22 April 2010: kinerja motor

Baru saja ganti gear depan, turun dari 14 jadi 13, total 17ribu.

Update 27 April 2010:

Efek turun mata gir depan terasa, lengkapnya ada di tulisan di atas. Tgl 26 April pasang kaliper satu piston cakram depan milik Honda GL Pro sang legendaris. Plus mulai mempertimbangkan ganti per & kampas kopling semi racing.

Jadi pengen upload foto terbaru dg gas spontan daytona, grip, n handle rem baru, n kaliper baru… :)

Update 1 mei 2010:

Posisi sdg di Jakarta, jadinya bisa menyambangi lokasi HCS (Pakdebin) di Panglima Polim, Jaksel, sayang motor2 yg dipasangi HCS sudah selesai, jadinya hanya diskusi saja sambil lihat2 produknya. Tertarik ceritanya utk nambah torsi bisa dg memperkecil lubang intake ke karbu pake paking alumunium yg lebih kecil diameternya, ada yg pernah mencobanya?? :), selain itu untuk pengapian selaras, kalo sdh ganti cdi baiknya koil jg diganti (jadi malu koilnya msh standar, tar ganti koil kitaco ah…). Lanjut ke arah bonjer-kedoya, survey helm… di juragan helm disarankan datang ke bazar otomotif 8-9 mei mendatang, jadi siap2 bikin daftar buruan nih, biar gak jebol kantong hehe, banyak part2 yg jarang ada soalnya plus yg baru juga ada, seperti helm SNI emboss model baru, oh ya, per April 2010, harga helm SNI emboss naik 15-40rb lho, jadi jgn pada kaget ya :)

Info tambahan: buat yg masih cari/naksir center box, silahkan sambangi toko variasi di seberang ITC Permata Hijau, arah kebon jeruk, sebelum lampu merah, cuma ada satu toko variasi motor di situ, lupa nama tokonya, dulu Indranesta beli di sana, dan tadi masih ada stoknya kelihatan satu, siapa tahu  cocok dg motor rekan2 biker…

Bagi yg cari kepala+kabel busi splitfire, kebetulan lihat ada 2 buah di toko helm/variasi lokasinya sebelum toko juragan helm arteri kb.jeruk, lupa nama tokonya juga, harganya jg lupa tanya hehe… moga bermanfaat…

Update 9 Juli 2010:

Upgrade yg melelahkan, tapi memuaskan sejauh ini… jadi selama dua bulan terakhir tdk sempat update, sbb:

  • Bubut magnet, 60rb
  • Porting & Polish Head (in-ex), 100rb
  • Ganti klep, 60rb+ongkos 25rb
  • Ganti noken as 280 derajat, 250rb
  • Ganti rantai sentrik set, 45rb+ongkos 25rb
  • Koil ganti TDR 150rb
  • Kop busi ganti TDR 40rb
  • PJ naik jadi 40, stasioner bagus
  • Lepas DB killer nobi (freeflow now)
  • Ring bensin 24000 gauss, 150rb
  • Nano energizer, 55-75rb, benar2 nendang, terutama gigi 1, klaimnya bisa sampai 30.000km
  • Pasang cakram belakang, 450rb
  • plus rapikan nopol+mika+frame, 80rb
  • rapikan braket cakram depan dan belakang (dihaluskan & pylox silver+hitam) 30rb

sementara pointer2 nya dulu ya bro n sis, penjelasan lengkapnya+foto2 baru menyusul :)

 

 


 

Seleksi Oli Bebek – Honda Supra X 100cc

Featured

 

Antrian seleksi Oli-indranesta-wordpress copyright

Antrian seleksi Oli-indranesta-wordpress copyright

Kali ini Indranesta fokus pada oli mesin pada Honda Supra X 100cc.

Latar belakangnya adalah kenikmatan berkendara (kinerja sesuai kebutuhan) dan keawetan mesin Honda ini dirasa kurang dengan oli standar pabrikan.

Jelas kurang, karena mesin rasanya “berat” dan “malas” diajak lari, maunya diajak jalan saja, memang sih, dari dulu motor Honda bebek terkenal enak buat jalan-jalan, makanya semua umur suka, mulai yang baru blajar motor, pacaran, sampe oma opa, so Indranesta lebih suka menyebut motor ini motor priyayi, motor kalem yang tidak suka diajak lari, paling ogah deh kalo sudah urusan lari or buru-buru, dan ini keluhan pertama saat nunggang motor ini.

 

Terkait erat dengan kinerja mesin, salah satu faktornya adalah urusan oli. Dari dulu sejak pakai Yamaha crypton, dan adik Indranesta pakai vega, kami tidak pernah mengeluh soal performa mesin, thus, karena mesinnya enak, maka urusan oli otomatis mudah dideteksi juga, alias kalo oli ada yang “tidak enak” kami langsung tahu dan saling tukar info. Pada jaman itu, setelah gonta ganti berbagai merk oli, ternyata crypton Indranesta paling cocok pakai Castrol Power 1 15w-40 0.8lt. dan Vega adik Indranesta paling cocok pakai Pennzoil 20w50 yang kuning, tapi secara harga, jauh di bawah Castrol.

 

Indranesta termasuk yang berkeyakinan bahwa “LAIN MOTOR-LAIN OLINYA”, karena tiap mesin punya karakter khusus dan punya kebutuhan spesifik akan oli. Spesifikasi teknis oli dan rekomendasi oli standar pabrikan motor tidak bisa dijadikan rujukan pasti dan tidak menjamin kepuasan pemakai motor karena hal ini terkait erat dengan kebiasaan cara membawa motor yang berbeda2 dan kebutuhan pemakaiannya. Hal inilah penyebab mengapa ada banyak bro biker yang mengeluh kenapa pakai oli bagus yang mahal kok mesinnya malah tidak enak, dan ketika ganti oli biasa yang lebih murah ternyata cocok dan tokcer atau sebaliknya. Kombinasi antara karakter mesin, karakter pemakainya, dan peruntukan mesin inilah yang akhirnya menentukan jenis, tipe, merk, dan teknologi oli yang paling pas, dan menurut Indranesta cara paling praktis dan murah adalah dengan mencobanya satu2, dirasakan sendiri sampai didapat oli yang tercocok bagi mesin dan pemakainya, artinya bisa jadi sama2 motor Honda Supra X 100cc tapi oli-nya bisa beda. Sementara spesifikasi teknis mesin dan oli dapat menjadi semacam petunjuk awal dalam proses pemilihan ini.

 

So, untuk Honda Supra X 100cc ini, Indranesta tertantang untuk menjajal berbagai jenis oli di pasaran dengan criteria yang Indranesta tentukan sebagai berikut :

  1. Subjektifitas : Karena kondisi Supra X mesin tidak se-”enak” Yamaha, maka indikatornya adalah kinerja mesin menjadi semakin “enak” secara ukuran Indranesta, alias feeling, tanpa pakai alat tes teknik mesin, cukup dengan melihat fisik kejernihan oli dalam pemakaian kurun waktu tertentu, tarikan bawah–sampai atas, kondisi langsam, penyalaan pagi hari, dan kondisi panas terik, serta saat jalan jauh, dan oleh karenanya, tulisan ini jelas-jelas subjektif menurut pribadi Indranesta, sesuai apa adanya yang dirasakan dan dialami pada mesin dan kinerja Supra X Indranesta.
  2. Independensi : oli yang dipakai dalam pengujian ini dibeli di pasaran umum dengan dana pribadi dan tidak melibatkan sponsor produsen atau distributor mana pun, alias independent, dan merk dan jenis oli dipilih secara selektif, dengan asumsi mendekati karakter mesin Supra, kebutuhan sehari2, dan karakter berkendara Indranesta.
  3. Disclaimer : karena pengujian ini bersifat subjektif, maka sebaiknya tidak ada pihak yang protes atas hasil pengujian ini.
  4. Mesin Standar : mesin Honda supra ini masih standar, hanya ditambah katalis Broquet B1, dan fuel Pertamax. Sedangkan ukuran ban depan dan belakang sama 70/90 (setara 2.50) tipe tubeless Swallow Sea Hawk SB115 dengan angin Nitrogen-ized 35psi depan, 40psi belakang plus Busi racing Jumbo. Update: akhir Maret ganti knalpot racing custom, April lepas busa filter udara dengan boks masih terpasang. Update: Pertengahan Juli ganti custom knalpot dengan Nobi triovale AL series dan Kabel+kepala busi Splitfire anti cipratan air dan Busi diganti dengan GSP (Gold Spark Plug) busi elektroda emas karena busi lama sudah berjalan sekitar 4000km.
  5. Praktis : oli tersebut relative mudah didapat di pasaran, kalau beli tidak repot carinya alias banyak yang jual, dan tidak perlu indent karena jarang ada.
  6. Non aditif : oli tersebut tidak perlu ditambah aditif apa2 lagi, alias apa adanya, karena yang diuji sekarang oli bukan aditif, selain itu tambah aditif artinya tambah budget lagi, jadi Indranesta tidak mau mempertimbangkan oli yang harus pakai aditif apalagi yang melewati batas budget sebagus apa pun olinya.
  7. Spesifikasi teknis : info tentang spek teknis oli seperti flash point, TBN, dan indeks viskositas (VI) didapat dari berbagai sumber jadi bisa saja benar atau salah, tetapi dalam hal ini masih bisa dijadikan bahan pertimbangan pembantu dalam memilih oli yang akan diuji, sehingga tidak semua oli yang diuji harus dilengkapi dengan data spek teknis, meskipun adanya spek teknis memberikan kemudahan dalam perbandingan dan pemilihan. Selain itu hal ini menunjukkan bahwa vendor oli tersebut memang berani menyatakan bahwa oli mereka siap “perang” terbuka dengan oli lain di pasaran, dan “perang” yang sesungguhnya akan terjadi didalam blok mesin Honda Supra X Indranesta.
  8. Standar mutu : API service minimum grade SG, SJ umumnya, lebih baik lagi dapat yang SL atau SM, dan sebaiknya sudah approved untuk motor alias sudah Jaso MA, sukur2 Jaso MA2.
  9. Viskositas : SAE antara 15w40, 10w40, 10w30, sedangkan 15w50 diuji satu saja secara Indranesta kapok pakai BM1 15w50 di mesin Honda Supra X, Indranesta tidak pakai 20w karena Honda Indranesta golongkan mesin tipe dingin, sehingga tidak pas kalau pakai oli sekental 20w, tapi hal ini tidak mutlak, maksudnya jika hasil tes ini dirasa kurang memuaskan maka akan dicoba lanjutkan pengujian oli dengan SAE 20w50 atau 20w40 berbagai merk, siapa tahu ada yang sudah berteknologi pas dengan mesin Supra X Indranesta tentu saja dengan batasan budget yang lebih rendah yakni <40rb.
  10. Grade : base oli mineral, semi, blend, atau full sintetik Indranesta tidak pedulikan, secara ini hanya untuk harian, bukan untuk special purpose, yang penting mesin Honda Supra Indranesta enak dibawa jalan dan lari, titik.
  11. Harga : <50rb, karena untuk harian dan bukan untuk balap atau gengsi2an harganya tidak boleh lebih dari 50ribu per 0.8lt, atau per ganti oli. Ini adalah budget ganti oli Indranesta untuk motor ini. Harga yang Indranesta cantumkan adalah harga survey-beli pada saat tulisan ini dibuat, dan beda toko beda harga itu jelas, jadi harga oli di sini tidak dianjurkan untuk dijadikan rujukan pasti di masa datang.
  12. Karakter : tujuan pencarian oli ini adalah yang paling cocok dengan karakter mesin Supra X Indranesta, kebutuhan pemakaian motor Indranesta sehari-hari, dan sesuai dengan karakter riding style Indranesta, jadi hasilnya pun bisa bervariasi, kebetulan riding character sehari-hari Indranesta suka stop and go, tapi pas bawa sendirian dan ada kesempatan accelerating and speeding tak akan disia2kan, suka bawa barang2 dengan gantungan barang, box tengah-box belakang, tentu saja dengan bermacam2 barang dan belanjaan, sedangkan kalau bawa untuk boncengan Indranesta cenderung bertipe slow defensive safety rider sambil bercengkerama menikmati perjalanan dan pemandangan. Jadi oli tersebut haruslah mampu melayani kemauan Indranesta, membuat motor Supra X Indranesta “enak” diajak “jalan” dan “lari” tanpa membuat mesin kepayahan dan overheat.

 

Untuk masalah overheat, Indranesta bersyukur karena dalam pandangannya, mesin Honda Supra ini termasuk karakter mesin “dingin”, alias susah panas, dan kalau sudah panas, lumayan kinerjanya, jadi boleh Indranesta bilang, ini mesin Diesel-nya bebek. Kenapa Indranesta bilang demikian? Karena karakter mesin Honda ini:

1). kalau pagi atau kalau suhu dingin suka susah hidup, apalagi kena banjir, dan habis hujan, suka mbrebet, dan minta dipanasi dulu sekitar 10-15menit baru enak langsamnya (suaranya pun bisa dibedakan setelah 10 menit).

2) kalau mesinnya sudah panas, dan dibawa jalan sekitar 15 menit, maka kinerjanya semakin meningkat dan tidak perlu kuatir dengan resiko overheat.

 

Kedua karakter di atas berbeda dengan mesin Yamaha Crypton Indranesta sebelumnya yang bertipe “emosian” alias cepat panas, kalau pagi tidak perlu dipanasi, cukup dinyalakan sebentar, ditinggal mengunci pagar, langsung tancap gas, tokcer, pun kalau hujan atau banjir Indranesta tidak pernah risau, sementara bebek merk lain harus parkir diutak-utik dulu setelah menerjang banjir, tarikannya pun dahsyat untuk gigi 1-2, tapi jika sudah dipakai jalan jauh, mesin terasa panas di kaki, dan kadang perlu didinginkan dulu sambil istirahat di pinggir jalan atau pom bensin setelah sekitar 1 jam perjalanan. Yah, memang kita tidak bisa mendapatkan semuanya, you win some, you lose some.

 

Oke, kembali ke Oli,

Indranesta sudah memilih oli yang ada di pasaran yang menurut Indranesta cukup memancing rasa penasaran untuk dicoba, antara lain :

  1. BM1 PC1000 – 15w-50 API SJ Jaso MA harga 38-40ribu 0.8lt. Jujur oli ini dulu Indranesta cuekin, dilirik saja tidak, karena harganya mahal dan jarang yang jual. Indranesta tertarik karena Indranesta melihat demo oli BM1 di pameran otomotif JCC Desember lalu, dimana oli ini menang diadu (jelaslah, namanya juga demo meski tidak tahu yang didemokan itu BM1 tipe apa) dengan oli lain untuk masalah gesekan mesin dengan tekanan tertentu, meski Indranesta tidak yakin karena tidak melihat bungkus oli BM1 yang sudah dibuka dan dituang, yang ada oli yang katanya BM1 yang sudah ada di botol kecil siap dituang ke mesin tes dan oli yang katanya selain BM1 yang ada di pasaran juga, warnanya mirip2, kuning-orange begitu. Waktu iseng Indranesta Tanya kenapa tidak pakai oli lain yang warnanya “ungu” mas? Mereka jawabnya tidak enak dengan produsen oli tersebut karena pernah di komplain karena sangat ketara, jadi mereka pakai oli pembanding lain yang warnanya netral begitu katanya. Jadi, pada kesempatan ini mereka berhasil membuat Indranesta penasaran, dan memutuskan mencoba BM1 sebagai candidate pertama.
  2. Pennzoil Synthetic Blend Motor Oil Ultra Turbo 10W40 API SJ – harga 45ribu 1Quarts (0.946lt) ~ sekitar 37ribu/0.8lt. Oli ini sudah Indranesta beli, dan belum sempat dipasang di motor, alias masih antri. Oli ini Indranesta pilih karena adik Indranesta puas dengan Pennzoil seri 20w50 di vega, selain itu oli ini merupakan synthetic blend dari mineral base-Grade III dan PAO (Poly Alfa Olefin)-GradeIV: Full Synthetic yang kualitasnya sedikit dibawah GradeV: Ester dan didukung teknologi Advanced Friction Modifier. Oli lain yang sepantaran dengan ini adalah STP 10w40, tapi Indranesta tidak tahu full synthetic atau tidak, harganya sama dan tidak diambil untuk sampling pengujian. Hanya satu kekuatiran yang muncul, oli Pennzoil ini belum Jaso MA karena ini memang oli mobil, namun demikian tetap akan dicoba karena di toko dan bengkel motor juga banyak jual oli Shell Helix yang jelas2 untuk mobil dan belum Jaso MA tapi tetap dijual untuk motor.
  3. Yamalube Gold 10w40 API SL Jaso MA – harga 30-32ribu 0.8lt. Ini oli berikutnya, Indranesta beli oli semi sintetik ini karena termasuk oli grade SL dan harganya cukup bersahabat. Oli ini juga sudah nongkrong di rumah, siap antri untuk digilir masuk mesin Supra. Selain itu juga untuk mereview kinerjanya kembali dengan inovasi teknologi Xpeed karena sewaktu Indranesta pakai Yamaha Crypton oli standar pabrikan Yamaha ini sama sekali tidak Indranesta lirik karena sempat kecewa dengan kinerjanya (yang tipe 20w50).
  4. Idemitsu ECO 4T 10w30 API SJ Jaso MA – harga 26-30ribu 0.8lt. Indranesta penasaran dengan oli ini karena merupakan standar pabrikan untuk reyen Honda Blade 110. Oli ini masih mineral based-Grade III dan masih API SJ sehingga harganya cukup ringan, jadi tidak ada salahnya dicoba. Indranesta ingin tahu apakah selain untuk reyen Blade oli mineral encer ini juga cocok untuk oli lanjutan >10.000km di mesin Supra X. Oli ini pun sudah ada di rumah, siap digilir, sedangkan urutan gilirannya Indranesta akan lihat situasi nanti pada saat ganti oli.
  5. Pertamina Enduro Racing 10w40 API SJ Jaso MA2– 37-40ribu 1lt ~ sekitar 32ribu/0.8lt. Oli anak bangsa, jadi tidak ada salahnya sekarang dicoba, ya kan? Jujur saja dulu sebelum tahun 2001 Indranesta tidak melirik oli Pertamina sama sekali, tapi sekarang kondisinya lain, setelah peraturan pemerintah mengubah peta dominasi oli di negeri ini dan tambah kritisnya para pengguna oli mau tak mau BUMN andalan ini harus kerja keras meningkatkan kualitas barangnya dan lebih agresif jualan. Menurut blog mas Triatmono oli ini semi sintetis, mempunyai viscosity index (VI) sebesar 153, viscosity @ 100oC sebesar 10.66, TBN 9.59 mgKOH/gr dan Flash Point 222oC, (wow, angka VI ini hampir menyamai Motul Ester 5100 10w40 dengan VI 154 seharga 66-70rb! TBN unggul jauh dari Motul 5100 yang 8.2 mgKOH/gr, dan Flash Point unggul jauh dari Shell VSX FP yang 208 oC seharga 50rb) dan standar Jaso MA2 cukup bikin penasaran jelasnya ditambah banyaknya testimony bernada puas dari para bro biker dan pedagang oli. Ini masih harga survey dan belum dibeli. Intinya oli ini sangat layak dicoba di mesin Supra X Indranesta.
  6. Castrol Power1 15w40 API SG Jaso MA – 26-32ribu 0.8lt. Ini oli andalan Indranesta sebagai oli pembanding meskipun masih API SG, lagipula secara harga juga bersahabat. Oli ini semi sintetik dengan Flash Point 180oC, diklaim tipe 15w40 oli yang paling cocok untuk sepeda motor karena stabil viskositasnya, dan Indranesta juga sudah membuktikan di mesin Yamaha Crypton sebelumnya. Jadi sebelum ada iklan Castrol Power1 yang heboh dan lucu2 di tv, Indranesta sudah membuktikannya, apalagi dengan teknologi Trizone dan formula Power Release diklaim mampu menaikkan kinerja mesin sampai 30% dibandingkan oli lain, jujur Indranesta berharap oli ini nantinya yang akan menjadi pemenang uji coba ini. Oli ini sudah ready di rumah dan siap diuji kembali kali ini di mesin Supra X.
  7. Shell VSX 10w40 API SL Jaso MA – 45-50ribu 1lt ~ sekitar 40ribu/0.8lt. Oli ini tidak ada salahnya dicoba karena masih masuk budget dan dengan harga segitu mahal faktanya begitu banyak bro biker yang tergila2 dengan oli ini sampai di beberapa toko oli sempat kehabisan. Menurut blog mas Triatmono, Shell Advance VSX4 10w40 ini oli semi-syntetic, memiliki viscosity index (VI) sebesar 155, viscosity @ 100oC sebesar 19.2, sedangkan viscosity @ 40oC adalah 140 dengan Flash Point 208oC, dan satu lagi Indranesta penasaran mencoba teknologi DPA-nya seperti apa sih (DPA = Dynamic Performance Additive), katanya bisa melancarkan kopling basah, apa iya? Kalau iya, bisa jadi yang mahal bukan olinya tapi teknologi DPA-nya.
  8. Evalube Transco 15w40 SL (harga masih disurvey). Sebenarnya ini oli yang Indranesta sangat penasaran mencobanya, oli berbotol hijau ini peruntukannya untuk mesin diesel performa tinggi yang bisa juga untuk mesin bensin sampai ke taraf API SL (wow!), dilengkapi dengan teknologi Exhaust Gas Recirculation (EGR), akan tetapi oli ini belum masuk criteria Jaso MA hingga dikuatirkan nanti ada masalah dengan gearbox dan kopling Supra X, tapi karena viskositas oli tipe 15w40 paling stabil dan paling cocok untuk motor, sebagaimana oli Pennzoil di atas, resiko itu Indranesta ambil dan oli ini tetap dicoba. Sebagai tambahan informasi, oli Evalube (merk local) dan Pennzoil (merk USA) diformulasikan dan didistribusikan oleh satu perusahaan yang sama yang sudah certified ISO 9002 dan 14000, dan karena Indranesta pernah menjadi seorang Auditor dan Instruktur ISO 9000 dan 14000, Indranesta tahu persis seperti apa kualifikasi perusahaan yang sudah mengantongi kedua sertifikasi itu.
  9. Top 1 Action Plus 10w40 Jaso MA2 API SG harga 35rb 0.8lt. Well, sepertinya kurang seru n kurang fair jika Indranesta tidak menyertakan merk oli yang paling controversial satu ini. Oli yang pernah meraih hujatan dari berbagai komunitas otomotif dan dihindari banyak bikers ini selain iklannya yang makin gencar juga mulai melakukan beberapa koreksi secara teknikal, seperti mulai mencantumkan berbagai sertifikasi dan angka2 hasil uji teknis di official webnya, sebut saja Flashpoint 194oC, TBN 6.9, VI 162, dan viskositas @100 15.99. Faktor teknikal yang membuat oli ini layak coba antara lain karena 1). lulus Jaso MA2, satu2nya oli dalam pengujian ini yang bisa mendampingi Pertamina Enduro dan BM1 PC1300, 2). Flash point lebih tinggi 14oC dari Castrol Power1 (194-180)oC dengan API service SG setara Castrol Power1, 3). Indeks viskositas (VI) lebih tinggi 7 points dari Shell VSX (162-155), dan lebih tinggi 9 points dari Pertamina Enduro (162-153). Ada rasa penasaran Indranesta juga untuk mencoba tipe lainnya seperti Top 1 SMO HP Plus 10W40 SM (1 L) Rp40rb ~ Rp32rb/0.8lt dan Top 1 Zenzation 10W40 SM (1L) Rp47.5rb ~ Rp38rb/0.8lt, selain harganya masih <50rb, mutunya juga sudah berani mencantumkan API SM, bikin semakin penasaran saja meskipun sepertinya ini oli untuk mobil.
  10. BM1 PC1300 10w40 SL Jaso MA2 – 45rb/0.8lt. Oli BM1 tipe ini lebih sulit dicari daripada yang PC1000, merupakan kesempatan kedua yang diberikan Indranesta kepada BM1. Dengan spek mirip Pertamina Enduro Racing, harga oli ini lebih tinggi 5rb, dan tidak adanya data teknis TBN, Flash point, dan VI membuat oli ini harus diuji berurutan dengan Enduro. Target minimal oli ini adalah sama rasanya dengan BM1 15w50+aditif BM1 anti friction seharga total 55rb. Oli ini akan menjadi penawar kekecewaan pada BM1 15w50 jika memang dia menunjukkan kinerja sesuai yang diharapkan, tapi bila tidak, Indranesta siap say goodbye pada merk oli satu ini, oleh karena itu tidak perlu panjang lebar mari kita lihat saja nanti hasilnya.
  11. Kawasaki Oil 10w40 SL MA 4T, oli genuine kawasaki jenis semi sintetik dengan harga sekitar Rp26-30rb/lt (harga web kawasaki 26rb, beres kawak 29rb) jadi sekitar 24rb/0,8lt. Keterangan lainnya masih dikumpulkan. Oli ini masuk jajaran tes karena adik Indranesta sudah mencobanya di Kawasaki ZX130 dengan predikat belum ada keluhan sampai saat ini, jadi dengan harga di bawah budget oli ini akan masuk mesin Supra X Indranesta untuk dites. Fakta yang cukup mengagetkan Indranesta, oli ini jenis semi sintetik tapi per 0,8lt-nya dibanderol lebih murah Rp7-9rb yakni di kisaran Rp21-25rb dibandingkan oli mineral 10w30 Honda seharga 32rb/0,8lt. Mengherankan dan aneh karena Kawasaki dikenal sebagai pabrikan yang “apa2″-nya serba mahal, terutama spare partnya, contoh: Karbu Kawak ZX130 Keihin NCV24 dibanderol 900rb-an sedangkan Yamaha Mio yang sama persis karbunya “cuma” dibanderol sekitar 650rb-an, cukup fantastis bedanya, selisihnya bisa untuk beli knalpot variasi atau CDI Racing. Jadi, ada apa dengan oli Kawasaki??? mari kita buka tabir keanehan oli ini di mesin Supra X Indranesta.
  12. MPX – AHM Oil 10w30 Jaso MA, harga 32rb/0,8lt. Ready on stock. Menurut salah satu bengkel Ahass oli botol merah-putih ini bisa bertahan sampai 4000km (wow), dan belum ada yang komplain dari pengguna hingga tulisan ini dibuat, meski ketika ditanya belum ada yang pernah menyatakan sudah mencoba sampai 4000km, karena oli ini masih baru. Namun jika melihat produsennya oli ini tidak diproduksi oleh AHM tapi outsourcing ke PT Idemitsu Indonesia alias produsen Idemitsu Eco 10w30 si Hulk super encer, kemungkinan oli ini menjadi oli paling akhir dalam tes kali ini. Sebagai info, AHM juga mengeluarkan oli serupa dengan label sertifikasi Jaso MB warna botol biru-putih untuk motor matic. Tambahan informasi, oli ini tidak mencantumkan embel2 “exellent cold start“, melainkan hanya “engine protection technology“. Update 3 Juli 09: Mulai 1 juli lalu muncul iklan oli ini di tv dan AHM memang berani meng-klaim oli ini bisa bertahan hingga 4000km.

Di atas kertas, secara teknis pemenangnya adalah Pertamina Enduro Racing 4T 10w40 SJ harga 32rb/0.8lt, dengan JASO MA2, TBN tertinggi 9.59 dan Flash point tertinggi 222oC, tetapi hal ini sama sekali belum membuktikan apa2 bagi Indranesta karena penentuan pemenang pengujian ini adalah kesesuaian dengan kriteria2 Indranesta di atas.

 

So far, hasil pengujian oli sementara (1 Feb 09):

1). BM1 PC1000 – 15w-50 API SJ Jaso MA harga 40ribu 0.8lt.

Karena cerita awal di atas, meskipun cukup sulit mencarinya, jadilah oli ini dipasang di mesin Honda Supra Indranesta @ Km23.200 sejak 8 Januari lalu dan hingga tulisan ini dibuat 2 Februari sudah berjalan hingga Km23.670, saat ini warnanya masih agak bening tapi sudah mulai keruh, tetapi 2 minggu lalu Indranesta harus campurkan BM1 aditif anti friction seharga 15ribu karena sebelumnya mesin rasanya agak tidak “akur” dengan oli ini sehingga getaran dan suaranya cukup meresahkan plus kopling yang agak keras dan kasar. Harga total untuk oli ini 55ribu, kondisi ini sudah jelas melebihi budget, sehingga otomatis oli ini gugur meski kondisinya cukup enak setelah diberi aditif.

Kinerja mesin Supra X: tarikan bawah agak naik, tarikan atas jauh lebih enak, sebelumnya top speed 60-70kpj kondisi ngeden dan getar, sekarang bisa 70-80kpj tanpa getaran berarti, tapi tarikan bawah pada saat mesin dingin masih susah, alias masih harus buka gas rada besar baru bisa “gerak”.

~Update : Pada tanggal 10 Feb 09, Km23.820 (pemakaian 620km) kondisi mesin sudah mulai “seret” dan suara mulai kasar meski warna oli masih dalam taraf baru mulai keruh.

So, oli mahal ini tidak lulus uji di Supra X Indranesta karena harus pakai aditif dan melewati batas budget, plus kinerja tarikan bawah masih belum memuaskan. Hasil ini membuat Indranesta kapok coba 15w50 di mesin Supra X.

*Belakangan Indranesta baru menemukan info bahwa 15w50 ini tidak stabil viskositasnya (http://masagusismail.wordpress.com/2008/08/28/belajar-memahami-makna-dibalik-kode-sae-oli-mesin-utk-motor/) sehingga riskan untuk perlindungan kopling dan gearbox, so, Indranesta memberi kesempatan kedua bagi BM1 tapi kali ini untuk PC1300 10w40 SL Jaso MA2 0.8lt dengan catatan harga tidak lebih dari 50rb dan barangnya bisa dicari di pasaran.

 

Ada yang mau usul saran oli berikutnya yang akan dicoba? Mungkin bulan depan sekitar medio Maret’09. Saat ini yang sudah standby siap uji ada Pennzoil, Yamalube, Idemitsu, BM1, Enduro, dan Castrol. Hayoo pilih mana??

 

Dengan masa pakai oli sekitar 1-2 bulan, maka semua oli tersebut Indranesta harapkan bisa dicoba dalam tahun 2009 ini. Jadi sering2lah membuka tulisan ini untuk membaca update-nya ya…

 

Update: 23 Maret 09

setelah 1,5 bulan ditinggal dinas, ini mesin masih bisa jalan, meski teteup harus dipanasin min 10 menit, oli tetep agak keruh, suara mesin mulai ndak enak, n kilometer masih di 23.930, baru 730km jalan, max speed dicoba semalam masih bisa di atas 90 km/jam, tapi pemakaian oli ini sudah ndak perlu diteruskan coz jelas2 oli ini gagal pengujian, untuk pilihan oli berikutnya karena belum ada masukan dari temen2 maka diputuskan ganti oli berikutnya pakai Idemitsu 10w30 si mineral super encer andalan Honda Blade.

 

Update: 1 April 09

2).Idemitsu ECO 4T 10w30 API SJ Jaso MA – harga 26-30ribu 0.8lt.

Akhirnya,

Tanggal 28 Maret Sabtu lalu di KM24.000 (tepat 800km oli lama) oli mesin diganti dengan si Hijau Idemitsu 10w30, di Ahass (sekalian service), harga di toko oli 26rb, di Ahass 28rb. Petugas servicenya sempat kaget, “ini encer lho pak 10w30, yakin mau pakai?” ya jawabannya jelas yakin lah dan yakin dong.

(http://oto.detik.com/read/2009/02/02/124732/1078048/648/uji-ketahanan-oli-encer-dari-idemitsu)

Ada satu point yang membuat penasaran yakni di label oli ini ditulis Exellent Cold Start, ketika dicoba saat pagi hari ternyata memang benar, yang biasanya mesin sulit hidup dengan electric starter alias harus dengan kick starter, sekarang tidak masalah 1st start dengan electricnya, dengan kick juga sangat mudah. Waktu pemanasan mesin lebih singkat, tidak lagi 10-15 menit, tapi cukup 5 menit sudah bisa langsam optimal.

Point berikutnya, di awal pemakaian pencapaian kinerja mesin juga semakin enak, suaranya halus adem, tidak sekasar BM1 PC1000 (dengan kondisi sama habis service juga), si Hulk ini sampai sekarang di KM24.105 masih bertahan enak, prediksi Indranesta oli ini tidak bertahan lama enaknya alias <1000km, tapi mana tahu namanya juga prediksi, hasil akhirnya mari kita lihat nanti.

Point tambahan, bensin jadi lebih irit, padahal knalpot baru ganti yang racing custom, ketika masih pakai oli sebelumnya bensinnya cepat habis, beda dengan oli ini, klaim pabrikan sih bisa hemat bbm s/d 17% (link di atas).

Kesimpulan awal oli ini worth it banget, encer meskipun mineral based dengan harga <30rb (jauh di bawah budget/hampir setengahnya) tapi kinerja didapati cukup memuaskan di pemakaian 100km pertama.

 

Update 14 April 09 :

km menunjukkan angka 24.365, belum ada 500km, tapi mesin sudah mulai “aneh”, biasanya tarikan enak, skg mulai berat, kondisi oli akan dicek pada saat km di angka 500, sementara konsumsi BBM masih irit di angka 50-52km/liter, so oli ini cukup istimewa di 300km awal.

 

Update 19 May 09:

3. Yamalube Gold 10w40 API SL Jaso MA

Kali ini oli diganti pada KM24.580, HANYA bertahan rata-rata 500km kondisi mesin suaranya sudah agak mengkhawatirkan, dan mulai ada bunyi2 aneh. so, oli ini tidak cocok untuk jangka panjang sesuai dengan dugaan awal Indranesta. Oli penggantinya adalah Yamalube Gold 10w40, kondisi awal biasa2 saja, enak, tapi tidak terlalu enak sperti awal pakai idemitsu 10w30.

*Ada tips yang bisa dicoba kalau ganti oli, supaya aditifnya bercampur sempurna dengan oli, yakni balik2kan oli sebelum dimasukkan ke mesin, karena aditif dan berat jenis oli biasanya beda, sehingga ada yg mengendap dan mengambang dalam kondisi normal, jadi kalau di”kocok” diharapkan bisa bercampur dengan baik.

Penggantian oli juga dibarengi dengan service di Ahass, plus stel klep dll, jadinya mesti enak, kondisi ideal penilaian biasanya >300km pemakaian. jadi rekan pembaca mohon bersabar yah untuk updatenya.

 

Update 27 Mei 09:

Hari ini baru sampai KM24.718 (masih 138km) dan rasanya mesin masih enak n akur dengan Yamalube ini, satu hal yang jadi catatan ialah waktu pemanasan mesin jadi lebih singkat, plus tidak harus tunggu lama2 kalau mau jalan. Beda dengan oli sebelumnya yang harus nunggu dulu sekitar 5 menit minimal baru bisa “nyampur” olinya (apa ini efek “kocok” sebelum ganti oli juga yah?). Bisa dibilang efeknya jadi mirip mesin Yamaha :) start langsung ngacir, tapi ini masih awal, jadi blm sampai 500km alias belum bisa ditarik kesimpulan lulus tidaknya ya… catatan tambahan, perpindahan gigi sedikit lebih keras/susah, mirip Yamaha juga :)

 

Update 11 Juni 09:

km25.184 (604km), sudah tembus angka psikologis 500km pertama dan Yamalube 10w40 masih bisa bertahan, mesin masih ok dan semakin berkarakter Yamaha :). Maksudnya, kalau mau naik gigi mesti mencapai Rpm tertentu lebih dulu mirip Crypton yg dulu, trus bensin juga sedikit lebih boros mirip Yamaha bener…yang asik, hentakan gigi satu semakin terasa, jadi makin pede di lampu merah meski top speed jadi sedikit turun, ini masih wajar karena imbas dari akselerasi yang bertambah, tapi kalau pun terpaksa ya 90km/jam masih bisa tercapai tanpa susah payah.

Dari segi suara n kehalusan mesin nyaris tidak ada masalah, knalpot custom juga suaranya makin merdu hasil dari pembakaran mesin yang bagus.

So far Indranesta cukup puas dengan kinerja oli ini hanya saja belum sempat diintip warna oli sejauh ini, mungkin dalam beberapa hari ke depan setelah dicuci steam, maklum masih sering kehujanan, jadi agak kuatir buka lubang mesin, alias takut kemasukan benda2 kecil seperti pasir, dll.

Kesimpulan sementara oli ini bisa jadi kandidat serius yang lulus pertama kali seleksi oli ini.

 

*Ada tips untuk rekan yang memakai knalpot custom atau variasi yang kebetulan di knalpotnya tidak ada lubang pembuangan air, saat dicuci ada baiknya lubang knalpot ditutup dengan plastik dan diikat karet, intinya supaya mengurangi air yang terciprat masuk ke knalpot, apalagi kalau “ditembak” dengan semprotan steam yang super kencang, bisa2 efeknya lebih parah dari kena banjir :) semoga bermanfaat. Simak updatenya terus ya, tks.

 

Update 19 Juni 2009:

Hari ini km menunjukkan 25.308, sudah 728km berjalan dengan oli Yamalube Gold, masih lancar, belum terasa gejala aneh atau suara mesin kasar. Karena kondisi badan Indranesta masih belum fit, maka akhir-akhir ini kecepatan rata-rata 20-40km/jam saja, kadang di bawah itu, otomatis konsumsi BBM makin irit. Karakter mesin yamaha yang tidak ditemui saat memakai oli ini adalah suhu mesin yang tetap ala Honda, alias tidak cepat panas ketika digunakan jarak sedang, indikasinya mesin motor overheat adalah ketika mesin dimatikan kita akan mendengar bunyi gemelitik logam mesin yang menyusut setelah memuai karena panasnya mesin, dan ini tidak terjadi di mesin Honda Supra X Indranesta.

Untuk mengganti oli ke Enduro racing 4T mungkin menunggu oli Yamalube mencapai 1000km dulu, alias batas psikologis kedua dan di km 1000 ini adalah periode ganti oli wajar bagi Indranesta.

Terima kasih atas feedback, sharing, koreksi, dan masukan dari rekan2, mohon tetap bersabar untuk uji oli selanjutnya, tks.

 

Update 29 Juni 2009:

Hari ini kilometer menunjukkan angka 25.559 (979km).

Nyaris menyentuh 1000km, kondisi mesin dengan Yamalube Gold 10w40 dirasakan masih enak dan lancar2 saja.

Sempat ada bunyi mesin cukup kasar ketika terjadi perubahan dari low speed (saat badan Indranesta blm fit) ke normal speed, namun setelah dicuci steam dan knalpot custom diberi oli, keluhan tersebut hilang, dan mesin kembali lancar seperti semula hanya masih ada bunyi mesin “sedikit” agak kasar. Ada kemungkinan hal ini karena saluran udara yang belum bersih karena debu dan bukan 100% faktor oli mesin.

Tingkat konsumsi BBM masih seperti sebelumnya, hanya saja makin kemari jadi sedikit lebih boros.

Tingkat warna oli sudah jauh berkurang, dan saat ini sudah mulai keruh (agak gelap), namun tetap jernih/bening, belum ditemui serbuk2 halus rontokan kotoran mesin atau hasil pelumasan yang berlebihan dari oli ini.

Ada kemungkinan oli sudah mulai jenuh dan bisa jadi inilah penyebab bunyi mesin “sedikit” agak kasar, top speed berkurang dan akselerasi mulai agak berat dibanding sebelumnya.

Secara feeling, saat ini bisa jadi saat paling tepat untuk ganti oli, namun melihat angka kilometer yang tinggal sedikit lagi menyentuh 1000km, maka diputuskan untuk mengganti oli setelah melewati 1000km dan melihat kondisi mesin saat itu.

Tunggu update selanjutnya ya, tks :)

 

Update : 2 Juli 2009

Akhirnya! terlewati juga 1000km dengan Yamalube Gold, hari ini Km menunjukkan 25.658, sudah 1078km ditempuh.

Hasil yang didapat di hari ini:

  • Konsumsi BBM makin boros
  • Akselerasi tidak secepat km2 awal
  • Top speed turun jauh sekitar 10-15km/jam
  • Suara mesin sedikit kasar
  • Warna oli sedikit gelap, meski belum terlihat serbuk2 halus

Hasil uji oli untuk Yamalube Gold 10w40 dinyatakan : LULUS dengan predikat sedikit memuaskan.

Karena bisa bertahan lancar hingga 1000km tanpa masalah berarti namun Indranesta merasa masih belum 100% puas dengan oli ini hingga 1000km karena terjadi penurunan kualitas pelayanan dari oli ini ketika mendekati 200km terakhir, tidak disarankan untuk memakai oli ini lebih dari 1000km.

Rencananya akhir pekan ini untuk ganti oli Pertamina Enduro Racing dan servis Ahass.

Sekaligus pasang perangkat tambahan, Kepala+Kabel Busi Splitfire.

Kinerja oli Pertamina ini akan dibandingkan dengan BM1 PC1300.

Mohon dukungan dan masukan dari rekan2 semua, tetap update terus ya, tks.

Update 6 Juli 09:

Hari ini Indranesta berencana melakukan penggantian oli Yamalube dengan Pertamina Enduro Racing. Km menunjukkan angka 25.789, sudah berjalan 1.209km, dan 200 km terakhir bukanlah pengendaraan mesin yang menyenangkan, didapati:

  • Oli ini semakin tidak nyaman saja di mesin Supra X meski masih bisa berjalan.
  • BBM semakin boros.
  • Waktu pemanasan mesin di pagi hari semakin lama (di atas 3 menit barulah suara mesin menunjukkan oli tercampur dengan baik)
  • Warna oli semakin gelap, meski tidak keruh.
  • Perpindahan gigi semakin kasar dan keras.

Akan tetapi ada sesuatu fakta yang mendesak (urgent) sehingga Indranesta terpaksa membuat update malam ini juga disamping Supra X dan bersama jejeran oli2 waiting list pengujian.

4. Pertamina Enduro Racing 10w40 API SJ Jaso MA2

Sebelum penggantian oli ke Pertamina Enduro Racing yang dibeli di salah satu Pom Bensin (no. SPBU, alamat, dan nomor telp. ada di Indranesta) terkemuka di Kota Bandar Lampung ditemui fakta sbb:

Finishing botol kemasan kasar: Didapati botol oli ini kemasannya tidak semulus oli merk lain. Sticker label tidak cerah, bahkan sedikit kabur / blur di beberapa tulisan. Bahkan pada beberapa bagian botol ada sedikit terkesan murahan dan dibuat asal jadi. Nomor batch yang tercetak timbul di leher dan di tutup botol memiliki nomor seri yang sama, namun kualitas pencetakan tidak bagus, ada angka yang tidak jelas terbaca.

Oli Bocor: Seperti biasa sebelum dibawa ke bengkel oli pengganti di”kocok” alias dibalik2an perlahan agar tercampur lebih baik antara aditif dengan olinya. Karena ada agenda lain yang cukup menyita waktu maka penggantian oli dan servis ditunda hingga hari berikutnya, sedangkan oli tetap berada di dalam box bagasi motor dalam posisi terlentang (horizontal) alias posisi tutup botol di samping. Di perjalanan Indranesta terkejut ketika membuka box bagasi didapati ada oli yang merembes dari kepala botol oli Pertamina Enduro Racing, selintas ada bau wangi seperti permen karet, dan memang oli ini terkenal di kalangan biker punya bau yang cukup enak, seperti ada parfumnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana bisa sebuah botol oli yang belum pernah dibuka tiba2 rembes isinya? Meskipun tidak tumpah semua ini merupakan suatu kegagalan (defect) kemasan produk dalam melindungi isinya. Selama Indranesta memegang berbagai merk botol oli belum pernah menemui kejadian seperti ini. Dan ini terjadi pada produk premium sekelas Pertamina Enduro Racing, alangkah malunya Indranesta sebagai bangsa Indonesia. Tindakan pencegahan Indranesta adalah menjaga agar botol oli tetap berada dalam posisi tegak.

Tutup botol sangat mudah dibuka tanpa merusak lingkaran plastic segel pada tutup botol: Sesampainya di rumah Indranesta lantas membuka tutup botol oli ini, oli masih terlihat merembes dan betapa terkejutnya Indranesta karena tutup botol amat sangat mudah diputar untuk dibuka tanpa susah payah membuka segel di tutup botol alias segel lingkaran plastic tersebut masih utuh. Tutup botol terkesan sangat longgar (loose) karena beberapa kali dibuka tutup, tetap saja segel plastic di lingkaran tutup botol tidak bisa lepas. Fakta yang tidak lazim bagi Indranesta.

Tidak ada seal aluminium: Oli ini tidak memiliki seal alumunium sebagaimana lazimnya tutup botol oli di pasaran. Indranesta dapat langsung melihat ke cairan oli di dalam botol. Sehingga ketika tutup botol terbuka, oli bisa saja keluar/tumpah jika posisi botol dimiringkan atau sedikit ditekan bagian bawahnya. Sempat terlintas pemikiran/ keraguan jika oli ini adalah oli palsu atau sejenisnya, karena oli asing saja banyak dipalsukan apalagi oli milik BUMN sendiri, namun Indranesta memerlukan keyakinan lebih untuk hal yang satu ini. Setelahnya Indranesta menutup kembali botol oli ini rapat2 dan membalikkan botol tersebut, didapati tidak ada oli yang keluar, namun ketika botol direbahkan/dimiringkan (horizontal), posisi tutup botol di samping, oli mulai merembes keluar sedikit demi sedikit. Satu kecurigaan Indranesta, jangan2 tutup botol oli tanpa seal aluminium foil ini memang teknologi kemasan oli Pertamina.

Akan tetapi seharusnya 2 kriteria standar dibawah ini terpenuhi oleh sebuah kemasan produk pelumas/oli mesin:

  1. Tutup botol oli dibuka dengan cara merusak segel plastic di lingkaran tutup botol.
  2. Tidak terjadi kebocoran dalam posisi apapun kecuali tutup botol sudah dibuka.

Namun kondisi/faktanya, kedua kriteria tersebut gagal dipenuhi, segel lingkaran plastik tidak rusak dan atau lepas, namun terjadi kebocoran / ada rembesan oli dalam kondisi botol oli belum pernah dibuka.

Hal ini entah disebabkan oleh kemasan yang diproduksi secara tidak standar, ataukah kemasan tidak diproduksi di lini Pertamina (namun dijual di jaringan Pertamina), atau karena sebab lain.

Lepas dari penyebab di atas yang disengaja atau tidak, akibatnya adalah isi produk pelumas didalamnya tidak dapat diyakini / diragukan keasliannya.

Hal ini berbeda dengan pengecekan kode produksi/batch di bodi botol oli dan di tutupnya, karena dengan fakta kebocoran dan mudahnya membuka tutup botol oli ini bisa saja botolnya asli tapi isinya tidak.

Esok harinya (7 Juli 09) dilakukan konfirmasi via sms dan email melalui Pertamina Contact Center (PCC) yang tertera di kemasan oli didapati jawaban email sbb. :

==

Terima kasih atas email saudara kepada Contact Pertamina. Untuk laporan saudara telah kami teruskan ke divisi terkait. Berikut kami sampaikan ciri pelumas asli Pertamina.

1. Tutup Botol
Asli : -. Pembuatannya/bentuknya halus
-. Logo PERTAMINA Jelas
Palsu : -. Pembuatannya/bentuknya lebih kasar
-. Logo PERTAMINA kurang jelas
2. Bagian Alas Botol
Asli : -. Bersih/tanpa goresan
Palsu : -. Banyak goresan
3. Isi PElumas
Asli : -. Isi sampai leher botol
Palsu : -. Isi hanya sampai dada botol
4. Pegang dan Kocok Botolnya
Asli : -. Terdengar suara “Gluk-gluk) (lebih kental)
Palsu : -. Terdengar suara “Gemercik” (Lebih encer)
5. Dibuka Tutupnya (Aroma Pelumas)
Asli : -. Baunya khas/gurih (kecuali oli samping)
Palsu : -. Tidak berbau (Jika pelumas darai bahan RPO)
-. Berbau sengit (Jika pelumas dari bahan oli bekas)
6. Disegel dan leher botol, terdapat 8 digit. Dan jika masih baru dan belum dibuka, maka letak angka 8 digit tersebut sama/sejajar.
7. 8 Digit : __ __ __ __ __ __ __ __
1 2 3 4 5 6 7 8
Digit No. 6 dan 7 : Menunjukkan kode tahun prod. (C/: 06 =>. 2006)
Digit No. 8 : Lokasi LOBP = Lube Oil Blending Plant (Jl. Jampea, Tanjung Priok, Jakarta )
*. Jakarta
===>. 1 (Kode No.1 & 2 untuk dikirim ke : Jawa Barat, Banten, Sumatra dan Kalimantan Barat)
===>. 2
===>. 3 (Pabrik Grease : Jadi untuk pelumas tidak mungkin digit yang paling belakang ada angka 3)
===>. 4 ( Untuk dikirim ke : Sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur)
===>. 5 ( Untuk dikirim ke : Jawa Timur, Kalimantan dan Indonesia Timur)
Terima kasih,
CONTACT PERTAMINA
PSTN : 500 000 (All cities in Indonesia)
HP : 62-21-7917 3000
SMS : 62-21-7111 3000
Fax : 62-21-7972 177
Email : pcc@pertamina.com

==

Kesimpulannya, Indranesta mencoba positif thinking dengan kejadian ini, kalau ada pihak mau memalsukan oli bisa saja tetap diberi seal alumunium foil sebagaimana oli merk lainnya yang banyak dipalsukan.

Meskipun tetap saja ada rasa was2 ketika memutuskan memasukkan oli ini ke mesin Supra X.

Tips hari ini:

Jika perlu, sebelum membeli miringkan, balik2an botol oli beberapa kali, dan tahan posisi tutup botol oli di bawah (vertical) dan tutup botol di samping (horizontal) beberapa saat untuk melihat apakah ada rembesan atau bocor, ini adalah cacat produksi dan indikasi adanya pemalsuan oli. Jika ini terjadi terangkan pada penjual, ada kalanya pihak penjual tidak mengerti akan hal ini.

Info: BBM Pertamax

Bagi pembeli Pertamax di wilayah pertamina Palembang, ada 1 kupon undian setiap pembelian 2 liter Pertamax. Hanya saja, box undiannya ada yang untuk motor dan untuk mobil, (apa pula ini maksudnya?) Periode pengundian setiap bulan hanya saja kupon tidak setiap saat tersedia, hadiahnya HP dan Motor, kalau mau lengkapnya silahkan sambangi pom bensin penjual Pertamax terdekat.

PERTAMINA CONTACT CENTER. Telepon (021) 7917 3000. SMS (021) 7111 3000. Fax. (021) 7972 177. Email : pcc@pertamina.com

Update 7 Juli 2009:

Penggantian oli Pertamina Enduro Racing 10w40 akhirnya bisa dilaksanakan, pada km 25.800. Kesan pertama dari oli berwarna biru-hijau dengan wangi permen karet ini:

  1. Suara mesin dan knalpot renyah dan halus, hal ini wajar karena oli baru.
  2. Perpindahan gigi mulus, mungkin ini karena anti slip technology-nya, lebih mulus daripada Yamalube Gold.
  3. Akselerasi lumayan, meski top speed belum berani dicoba karena padatnya jalan, namun Indranesta rasa oli Yamalube Gold punya layanan akselerasi sedikit lebih baik.
  4. Belum bisa diambil kesimpulan awal termasuk konsumsi BBM, sekilas kinerjanya masih mirip dengan oli Yamalube Gold.

Semoga rekan2 biker semua selalu mendapatkan oli yang asli, dan dapat mengambil pelajaran dari sharing ini.

Tetap update terus!

 

Update 16 Juli 09:

Kilometer menunjukkan angka 25.970 sudah 170km dengan Enduro Racing.

Top speed tertinggi 105km/jam, dan itu masih ada nafasnya, hanya terhambat kondisi lalulintas, namun ini top speed tertinggi yang pernah diraih Supra X-100 Indranesta.

Kondisi suara mesin masih mulus, hanya saja perpindahan kopling tak lagi semulus di awal pemakaian oli.

Kondisi pemanasan mesin di pagi hari cukup cepat, masih setara Yamalube, alias hanya perlu waktu sekitar 1-2 menit saja oli sudah tercampur baik dan siap jalan.

Mungkin besok Jumat akan dicoba naik turun bukit berboncengan, jadi tetap ditunggu updatenya ya…

 

Update : 24 Juli 09

Km menunjukkan angka 26.110 sudah 310km berjalan dg pertamina enduro racing. So far belum ada masalah berarti, berikut perkembangannya:

  • Perpindahan gigi masih mulus.
  • Akselerasi masih baik.
  • Tenaga di tanjakan lumayan bagus, begitu juga ketika dicoba berboncengan di jalan perbukitan, kalau dibawa sendiri masih bisa naik di tanjakan 45 derajat dengan 60km/jam gigi 4. Motor ini memang bukan untuk cari top speed, karena tidak ada such a place utk mencobanya di kota ini, tapi yang paling dibutuhkan adalah tenaga akselerasi, karena medan yg dilalui adalah perbukitan dengan membawa beban dan berboncengan.
  • Konsumsi BBM masih standar, tidak begitu boros.
  • Belum ada suara kasar di blok mesin
  • Belum dilakukan pengecekan warna oli
  • Suhu mesin masih stabil, begitu juga setelah dibawa “kerja” naik-turun bukit.

Tips hari ini

Untuk pengkondisian mesin setelah bekerja keras atau sertelah jalan jauh, sebelum mematikan mesin biasakan untuk membiarkan mesin berada dalam kondisi stasioner sekitar 1/2-1 menit, ini untuk menormalkan kembali “tensi” mesin.

Demikian, semoga membantu, update terus ya Bro’s…

Update 28 Juli 09:

Hari ini angka odometer Supra X-100 menunjukkan kilometer 26.167 berjalan 367km dengan Enduro Racing, didapati:

  • Perpindahan gigi mulai sedikit susah/keras (poin penting pada update kali ini) alias tidak sehalus & seenak di awal pemakaian, padahal belum ada 500km.
  • Mesin masih oke, suara masih halus, (kemungkinan faktor non-oli –> akselerasi meningkat seiring penggantian busi)
  • Pemanasan pagi masih cepat <2 menit.
  • Suhu mesin stabil, meskipun setelah penggunaan cukup ekstrim naik-turun bukit.
  • Warna oli mulai gelap, tidak tampak lagi warna biru-kehijauan, namun masih bening, belum ditemui serbuk2 halus rontokan mesin, cukup mengherankan bagi Indranesta karena belum dipakai 500km tapi warna oli sudah berubah gelap.

Tips hari ini

Kalau bro-sis merasa motornya sedikit boros BBM padahal tidak ada perubahan apa-apa, silahkan dicek putaran roda depan dan rem cakram depan, jika terasa berat /tidak lancar berputar bisa jadi kampasnya terlalu “menjepit” sehingga ban depan tidak bisa berputar “lega” tanpa hambatan.

Bawalah ke bengkel kepercayaan untuk dicek dan di”lega”kan cakramnya.

semoga bermanfaat…

 

==

*Untuk balasan dan aproval komentar, Indranesta Mohon maaf pada bro-sis rekan bikers, krn trouble jaringan bbrp hari ini Indranesta menemui sedikit kesulitan utk online.

Dan Indranesta ber-terima kasih sekali kepada rekan2 biker yang sudah ikut membantu menjawab beberapa pertanyaan yang ada, di sini kita sama-sama saling meng-inspirasi dg berbagi info, pengalaman, dan wawasan.

Jadi bagi rekan-rekan biker yg baru bergabung, mohon sedikit bersabar n jangan kecil hati utk menuliskan komentar, kritik, atau masukan.

Tetap update ya…!

 

Update 29 Juli 09 :

Ada hal khusus pada hari ini di mesin Supra X Indranesta,

Perpindahan gigi jadi lebih sulit dari hari2 sebelumnya, ada apa gerangan?

Padahal enduro racing dikenal punya teknologi anti slip, dan ini sangat terasa manfaatnya di awal pemakaian, namun kinerja aditif ini menurun jauh sebelum mencapai 500km, aneh.

Biasanya dengan speed dan tenaga “congkelan” yg sama, gigi berpindah dg mulus, tapi kenapa sejak kemarin siang yg terjadi harus menambah tenaga congkelan?

Selain itu suhu mesin masih stabil, hanya mesin mulai terasa bertambah getarannya, namun belum menjurus kasar.

Akan dicoba meneruskan dalam beberapa hari ke depan, dan melihat warna + kejernihan oli, jika dirasa mengkhawatirkan bisa2 oli ini gugur prematur alias gugur sebelum melewati batas psikologis pertama 500km.

Tapi jika bisa terus melewati 500km, Indranesta ber-hipotesis oli ini tdk bisa bertahan melewati 1000km di mesin Supra Indranesta.

Ada sedikit kerisauan di hati Indranesta, oli Enduro Racing yg sedang diuji ini asli atau tidak ya?

 

Tips hari ini

Jika bro-sis mengalami start awal yg agak sulit, biasanya gas sedikit dipancing, jika terjadi hanya sekali mungkin tidak masalah, bisa saja karena suhu turun setelah hujan atau setelah dicuci steam. Jika hal ini terjadi cukup lama maka ini kondisi yg tdk normal utk Supra, hal ini bisa diakali dg memutar baut pengatur angin karbu ke arah kanan, (letaknya di sisi kanan karbu- jika krg jelas silahkan lihat buku panduan pengguna letak baut pengatur angin karbu ini), gunakan obeng kembang dan putar pakai feeling aja sampai enak start-nya, jangan kebanyakan bisa boros bbm.

 

Semoga bermanfaat…

 

Update 10 Agustus 2009:

Di bulan kemerdekaan RI ini oli Enduro Racing masih bertahan, angka odometer menunjukkan 26.400 (600km), baru saja melewati batas psikologis pertama 500km. Kondisi yang didapati di mesin Supra X Indranesta sebagai berikut:

  • Warna oli masih agak gelap, tapi belum keruh
  • Suhu mesin stabil baik ketika dibawa “ngotot” maupun jalan normal.
  • Proses pemanasan masih baik dan singkat (di bawah 2 menit)
  • Proses pendinginan mesin belum ada masalah.
  • Engine brake didapati mulai kasar, terutama dari gigi 3 ke gigi 2, apalagi dari gigi 2 ke 1.
  • Proses pemindahan gigi didapati masih agak keras/kasar, terutama jika melakukan slow shifting, tapi jika dilakukan quick shifting untuk kejar akselerasi praktis tidak ada masalah berarti, alias lancar2 saja.

Ada rencana untuk dibawa jalan2 agak jauh tapi mungkin baru bisa minggu depan. Beberapa kali dipakai membawa beban berat, dus, belanjaan, tas2 besar, sambil boncengan pula, mesin motor ini masih bisa melayani dengan baik.

Tips hari ini:

Shifting: perpindahan gigi (masuk kopling naik-turun gigi), didapati di motor sport kopling manual dan bebek yg memakai kopling semi otomatis. Ada Slow, Normal, dan Quick Shifting. Normal shifting tidak dibahas kali ini.

Slow shifting: perpindahan gigi perlahan, biasanya ketika berkendara pelan-santai, teknik ini lebih membuat awet gear dan rantai karena minim hentakan dan tarikan, namun jika plat kopling atau oli tidak siap/kurang bagus biasanya perpindahannya kasar.

Quick shifting: perpindahan gigi secara cepat, biasanya untuk mengejar akselerasi di arena balap sprint/drag race, ketika keluar dari tikungan maupun persiapan di tanjakan agar tidak kehilangan momentum putaran mesin. Resikonya, gear dan rantai cepat kendor dan aus, jadi sering2 dicek setelan rantai dan mata gear-nya.

Demikian semoga bermanfaat…

 

Update: 28 Agustus 2008

Pertama2 Indranesta ucapkan selamat beribadah puasa Ramadhan 1430H bagi yang menjalankan, semoga amalan2 kita diterima dan mendapat ampunan, keberkahan, dan peningkatan derajat di hadapan Allah SWT, Amin.

Update hari ini km menunjukkan angka 26.781, hampir menyentuh 1000km, kondisi yang dialami :

  • Kondisi start pagi perlu waktu lebih lama, sekitar 5 menit baru oli tercampur dengan baik.
  • Secara umum kinerja mesin masih baik, oli Enduro Racing masih dapat melayani dengan memuaskan namun suara sudah mulai agak kasar.
  • Mulai ada knalpot nembak di saat engine brake posisi gigi 3 dan 4 (kondisi DB killer knalpot Nobi dilepas), padahal sebelumnya mulus2 saja.
  • Suhu mesin masih terjaga, dan belum ada gejala overheat
  • Penggunaan quick shifting lebih banyak sehingga memperkecil kemungkinan selip/nyangkut saat pindah gigi.
  • Belum dilakukan penambahan oli (masih ada sisa 200ml)
  • Akselerasi terakhir yang pernah dicoba, gigi 2 sampai 60, dan gigi 3 sampai 80, ini saja Indranesta sudah cukup deg2an mengingat oli ini sudah lebih dari 500km dan kondisi lalu lintas yang lumayan padat. Namun fakta ini menunjukkan bahwa oli Enduro racing masih bisa diajak kerja keras pada RPM tinggi.

Tips hari ini

Rem titik (dot braking). Teknik mengerem dengan menekan2 tuas rem sedikit demi sedikit untuk mendapatkan maneuver dan control yang lebih baik. Teknik ini lebih banyak dipakai di sirkuit balap dan trek jalanan yang tidak terlalu padat. Bagi rekan biker yang suka kecepatan tinggi, teknik ini bisa sangat membantu mengendalikan kendaraan tanpa harus menurunkan kecepatan terlalu banyak.

Semoga membantu…

Update 3 Sep 09:

Hari ini, kilometer menembus batas psikologis 1000km, tepatnya mencapai angka 26.902 (1102km), kondisi yang ditemui:

  • Suhu mesin mulai agak panas hal ini diketahui dari kaki saat berkendara.
  • Suara mesin mulai kasar sama seperti sebelumnya, namun kali ini mulai tidak enak dikendarai, sepertinya volume oli semakin berkurang.
  • Warna oli semakin gelap, sehingga sulit melihat adanya endapan atau kekeruhan.
  • Tarikan/akselerasi dan top speed menurun, namun ini seiring dengan pemasangan DB killer di knalpot Nobi.
  • Start pagi perlu waktu lebih lama, namun masih di kisaran 5 menit.
  • Sisa oli yang 200ml belum digunakan, mengingat yang dites adalah kondisi oli 800ml. Jika ini dilakukan artinya tidak fair dengan oli merk lainnya, dan tidak perlu dimasukkan sebagai hasil uji.

Well, prediksi Indranesta oli ini tidak bisa bertahan melewati 1000km ternyata tidak terbukti, namun, kondisi mesin sudah mulai menurun cukup signifikan, sehingga mungkin dalam waktu dekat akan dilakukan penggantian oli.

Tips hari ini

Sesuai tema bulan suci Ramadhan, tips kali ini mengenai kebersihan motor. Salah satu musuh utama motor di musim kering adalah debu, sedangkan kala hujan sudah jelas cipratan air bercampur kotoran jalan, oli, asap, dll.

Bagian2 yang paling sering diserang adalah: (1). Roda, terutama velg, yang beresiko berkarat sampai bolong2, dan ini jelas mengganggu kestabilan berkendara. (2). Knalpot, sama juga hal ini beresiko karat mulai dari leher hingga silencer, sehingga membuat knalpot bolong yang suaranya pecah mengganggu pendengaran dan saluran gas buang. (3). Filter udara, biasanya terisi partikel debu atau uap air, bisa mengganggu kualitas pembakaran.

Dari pengalaman Indranesta, sikap malas membersihkan kotoran2 di atas bisa jadi biang keladi pengeluaran besar di belakang hari, seperti ganti parts yang seharusnya belum diganti karena berkarat atau rusak akibat tempelan kotoran2 tadi. Jika memang sedang malas atau lelah, tidak ada salahnya berbagi rejeki dengan tukang cuci steam motor, tentu saja pastikan knalpot racingnya aman dari semburan air. Intinya jangan sampai telat dibersihkan, usahakan jangan lewat dari 2 hari kotoran menempel di motor.

Demikian semoga membantu…

Update: 26 Sep 09

5. BM1 PC1300 10w40 SL Jaso MA2

Sebelumnya Indranesta mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1430H bagi rekan2 yang merayakan, minal aidin walfaidzin, mohon dimaafkan lahir batin, semoga kita termasuk yang kembali fitrah, amiin.

Kemarin pulang dari mudik, langsung menghidupkan motor yg diparkir sejak tgl 16 sep, oli yg belum sempat diganti pun menimbulkan suara kasar dan kering, knalpot juga belum diberi oli. Namun hari ini oli mesin telah diganti dengan BM1 10w40 pc1300 pada km 27.168 (1.368km dengan enduro racing).

Ada pun hasil pengujian oli Enduro Racing pertamina 10w40 dinyatakan lulus dengan memuaskan karena bisa melayani dengan baik untuk pemakaian ekstrim di medan berat dan bisa melampaui batas akselerasi selama ini. Dengan catatan harus hati-hati memilih olinya, karena indikasi pemalsuan oli ini telah diinformasikan sedemikian rupa oleh produsennya (Pertamina).

Jadi selama in yang lulus uji oli baru Yamalube 10w40 dan  Enduro racing 10w40.

Kesan pertama menggunakan oli BM1 Pc1300:

1.  Belum terdengar suara mesin kasar seperti keluhan rekan2 biker lain, atau ini mungkin karena masih kalah oleh suara knalpot yang belum disemprot oli.

2. Tarikan terasa enteng, maklum, habis diservis, jadi belum bisa dinilai tarikan aslinya, mungkin nanti setelah jalan 500km lebih, dan telah dibawa ke medan yang cukup ekstrim.

3. Suhu mesin juga masih oke, maklum oli baru, namun belum pernah diajak akselerasi atau mengejar top speed.

4. Perpindahan gigi lancar, lebih halus dibanding Yamalube, namun masih belum dicoba quick shifting seperti di Enduro Racing.

Tips hari ini

Bagi rekan biker pengguna knalpot racing baru pertama kali, mungkin perlu menyiasati perubahan suara knalpot yang berubah kasar, ini tanda perlu diberi oli, paling enak dengan oli rantai yang model semprot, banyak yang jual dengan harga bervariasi 15-50rb.

Hal ini karena knalpot racing rata2 memakai gaswoll/gasbul untuk peredam suara, jika kondisi kering busa ini bisa menghitam dan ada bau terbakar plus suara yang tidak enak/kasar. Beda dengan knalpot standar yang rata2 tidak memakai gaswoll.

Demikian, semoga membantu…

Update 28 Sep 09:

Wah, baru dua hari sudah update :)

Benar, hal ini dikarenakan Indranesta mohon ijin untuk jarang update sekitar 10-14 hari ke depan karena ada pekerjaan luar kota, otomatis Supra X ditinggal dulu, namun  diusahakan tetap bisa memantau diskusi/masukan rekan2 biker.

Ada sedikit update oli BM1 PC1300:

  1. Waktu pemanasan pagi lumayan lama di atas 2 menit, hal ini kemungkinan karena efek mesin lama tidak dihidupkan, jadi akan dilihat lagi nanti.
  2. Suara berisik/kasar di mesin mulai terdengar teurtama saat gas dibuka agak besar atau RPM tinggi (gigi 2-3).
  3. Secara tarikan  akselerasi gigi 1 belum bisa menandingi Enduro Racing namun masih sepadan dengan Yamalube. Namun gigi 2-3 paling enak untuk akselerasi, spontan namun belum bisa menyaingin Enduro.
  4. Topspeed belum dicoba, maklum, masih ramai jalannya.
  5. Suhu terasa masih normal saja belum ada gejala overheating.

Demikian untuk hari ini, mohon bersabar menunggu update selanjutnya ya , tks…

Update: 12 Oktober 2009

Yak, update pengujian oli berlanjut. Hari ini kilometer menunjukkan angka 27.354 artinya oli BM1 sudah berjalan 186km, masih sedikit, maklum habis ditinggal dinas luar kota 10 harian.

Hasil yg didapati:

  • Waktu pemanasan pagi masih >2 menit utk tercampur optimal, dan agak susah hidup sebelum diputar anginnya, untunglah sudah siap obeng utk yg satu ini, setelah putaran optimal didapat, angin dikembalikan lagi ke standar, cuma satu akibatnya, repot!!!! apalagi kalau lagi buru-buru.
  • Tarikan masih lumayan enak, jelas krn masih sedikit km nya
  • Suara mesin agak kasar, terutama kondisi mesin panas, selain itu efeknya ke suara knalpot kurang enak, baru kali ini istri sampe komen masalah suara knalpot yg kurang sedap alias lebih berisik dari biasanya. Ini alamat BM1 tdk lulus sepertinya :)
  • Warna oli belum dicek karena masih di bawah 500km
  • Suhu mesin terasa stabil, tidak ada perubahan suhu berarti, alias masih standar2 saja…
  • Top speed dicoba baru sampai 90-an kpj, blm bisa lebih, maklum faktor lalulintas.

Jadi sementara ini paling enak masih oli Enduro Racing, disusul Yamalube Gold… :)

Tips hari ini

kebiasaan/cara memutar gas bisa berpengaruh pada konsumsi bensin, jika ingin lebih irit, usahakan gas pada posisi konstan lebih banyak atau kecepatan rata2 60km/jam, pada saat berhenti di lampu merah tidak perlu menggeber2 gas, jika menunggu palang KA yg agak lama bisa mematikan mesin dulu (hindari panas mesin Supra yg tidak pakai radiator) . Demikian semoga membantu

*Demi keseuaian topik diskusi, untuk rekan2 yang ingin berdiskusi, saran, komen tentang part upgrade/racing Supra X  silahkan masuk di sini tks :)

Update: 29 Oktober 2009

Hari ini km menunjukkan angka 27.630, oli BM1 sudah berjalan 462km, hampir menyentuh batas psikologis pertama 500km. Sampai hari ini didapati:

  • Tarikan masih enak, jika terpaksa pun, gigi 3 bisa sampai 80km/jam, tapi jarang terjadi, dalam hal ini Enduro racing masih juara.
  • Untuk boncengan dan bawa barang belanjaan relatif tdk ada masalah.
  • Suara mesin masih bisa diterima bagi Indranesta (dengan catatan di knalpot Nobi tetap dipasang DB Killer), hanya saja akhir2 ini jarang boncengan dengan istri jadi belum tahu pendapatnya soal suara (minta second opinion) :)
  • Pemanasan pagi, masih lelet, alias di atas 2 menit baru langsam dengan baik, sudah tidak pakai obeng lagi, mungkin krn sudah didapati setelan angin yang pas.
  • Suhu mesin terpantau stabil di kaki, baik pada penggunaan ekstrim
  • Warna oli akan dicek setelah melewati batas 500km

Satu hal yang sangat mengganjal dari oli ini adalah susah sekali mencari penjualnya, alias jarang yang jual. Kendala ini cukup serius bagi Indranesta.

Kendala berikutnya, harga, 45rb/0.8lt dengan kinerja di bawah Enduro racing seharga 32-32rb/0.8lt, selisihnya cukup jauh, seharga gear depan Supra X atau busi standar. Bagi Indranesta ini juga hal yang serius.

Tips hari ini

tips untuk keamanan. Bagi yang belum tahu saja, ada lubang gembok pengaman untuk Honda terutama Supra X, letaknya di standar tengah. Lubang ini bisa dipasangkan gembok apabila standar tengah digunakan. Gembok dipasang untuk “mengikat”  bodi motor dan standar tengah, sehingga tdk bisa digerakkan. Tambahan, pilihlah gembok pengaman yang panjang dan anak kuncinya model baru (yang tdk bisa di duplikat).

semoga bermanfaat…

Update: 15 November 2009

Setelah ditinggal luar kota beberapa hari, akhirnya Indranesta bisa update uji oli lagi, dan esok sudah harus jalan luar kota lagi, jadi mohon bersabar yah…

Hari ini kilometer Supra X Indranesta menunjukkan angka 27.850, sdh berjalan 682km dengan BM1 10w40 alias sudah melewati batas psikologis pertama yakni 500km, kondisi yang ditemui antara lain:

  • Start pagi perlu waktu lebih lama dari 2 menit, jika dipaksakan jalan sebelum 2 menit tarikan rasanya “serba nanggung”
  • Suhu mesin terpantau baik2 saja
  • Suara mesin semakin tidak enak
  • Warna oli setelah 500km pertama: warna mulai berubah gelap, namun masih bening dan belum ada kerak2 atau endapan lainnya
  • Tarikan agak menurun, maklum, sudah lewat 500km

Secara umum, performa oli ini sudah menurun cukup signifikan setelah 500km, namun jelas lebih baik jika dibandingkan  dengan saudaranya BM1 15w50 yg gagal tes sebelumnya. Mari kita lihat apakah oli ini mampu bertahan sampai 1000km di Supra X Indranesta…

Tips hari ini:

Jika setelah dicuci steam motor sukar dihidupkan, bagaimana solusinya? tips berikut bisa dicoba:

  • pertama, kesalahan yg umum adalah menghidupkan mesin dg membuka gas besar2, hasilnya seringkali gagal, cobalah mengidupkan mesin tanpa membuka gas
  • jika cara pertama masih gagal seringkali yg dituduh adalah mesin kemasukan air krn semprotan air steam, jadi yg dibersihkan dg angin kompresor adl busi, karbu dan teman2nya
  • namun jika ini masih blm berhasil ada yg sering terlupakan, yakni lubang kunci kontak, bersihkan dg angin kompresor, tunggu beberapa saat baru coba hidupkan

semoga membantu…

Update 22 Desember 2009:

Mohon maaf utk rekan2 biker n pembaca semua :) Indranesta baru bisa hadir kembali setelah semua kesibukan penugasan yg lalu2 ke luar kota, setelah kembali ke Bandar Lampung baru bisa lanjut lagi tes olinya…

Kilometer menunjukkan angka 28.280 dan oli pun berganti dengan Castrol Power One.

Ulasan BM1 10w40:

Sampai saat terakhir telah melewati 1112 km di blok mesin Supra X Indranesta oli ini menunjukkan kestabilan suhu mesin dan kinerja yg lumayan, dibandingkan dengan PC1000 yg ini lebih oke. Hanya kekurangannya suara jadi lebih berisik dan waktu start pagi perlu pemanasan lebih lama lebih dari 3 menit, tapi sebanding dengan kinerja yg didapat meskipun masih dibawah Yamalube n Enduro Racing.  Warna oli agak keruh meskipun belum ada endapan serbuk2 halus. Meskipun telah melewati 1000km oli ini masih bisa diajak kerja keras mencapai gigi2 di 60km/jam, namun utk gigi3 hanya mentok di 80km/jam. Masih dibawah Enduro Racing.

Kesimpulan utk oli BM1 PC1300 10w40: Lulus (dengan catatan : sulit dicari di pasaran dan harganya relatif lebih tinggi dibanding oli merk lain yg kinerjanya lebih bagus). * Mungkin oli ini cuma cocok untuk yang fanatik dengan BM1

Sementara ini, best value n best buy ada di Enduro Racing.

6. Castrol Power1 15w40 API SG Jaso MA

Oli seharga 26-32ribu/0.8lt ini sdh masuk mesin Supra X Indranesta sejak kemarin, sekaligus service. Kesan pertama, hentakan n kinerja mesin tdk seenak enduro racing, yamalube, BM1 pc1300, & Idemitsu eco, apakah ini karena kekentalannya beda? atau karena gradenya masih SG? kurang tahu juga, yang jelas akselerasi gigi2 cuma bisa sampai 50 dan gigi3 cuma sampai 70, masih dibawah Enduro. Perlu waktu lebih lama utk pemanasan pagi dibanding oli sebelumnya. Suhu mesin terpantau normal2 saja sejauh ini. Agak kecewa juga sebenarnya karena jujur Indranesta berharap banyak pada oli yang satu ini, tetapi masih ada waktu bagi Castrol Power One untuk membuktikan kepantasannya di mesin Supra X. Mohon ditunggu ya…

Tips hari ini: Alat pengukur Tekanan angin ban

Musim penghujan tiba, suhu tak menentu, seringkali ban harus berada dalam kondisi ekstrim, hujan yang dingin plus banjir, dan panas menyengat. Kondisi ini bisa berpengaruh pada tekanan angin ban. Tidak ada salahnya rekan2 biker membekali diri dengan alat pengukur tekanan angin ban, banyak di jual di toko2 variasi, terutama mobil, juga supermarket2 besar, harganya bervariasi, mulai dari 8ribu sampai puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Ada juga yg dibuat gantungan kunci. Alat ini kecil bisa dimasukkan box perkakas motor di bawah jok motor. Gunakanlah ketika ban mulai terasa empuk atau limbung ketika belok atau berboncengan, jika standar ban depan 30psi dan terukur 25psi mungkin masih aman, tapi jika di bawah itu sebaiknya langsung dinormalkan lagi, karena bisa membahayakan kita sendiri plus boncenger.

Demikian, semoga membantu…

 

Update 12 Februari 2010:

 

Jumpa lagi rekan2 biker, mohon maaf baru bisa update lagi, dikarenakan kesibukan dan penugasan luar kota yang tidak ada koneksi internet.

Plus, capaian kilometer Supra X yang lamban karena jarang dipakai (meski selalu dipanasi mesinnya oleh orang rumah)

 

By the way, saat ini sudah muncul oli Castrol Power One 10w/40 dengan kisaran harga 35-40ribu, namun di kota Bandar Lampung belum kelihatan di toko2 oli n bengkel.

 

Ok, langsung saja kita update oli Castrol Power One.

Kilometer Supra X menunjukkan angka 28.901, sudah berjalan lebih dari 500km, alias 621km tepatnya (benar2 lambat pemakaiannya ya).

Pemanasan pagi masih lebih lama dari Enduro, jika habis kehujanan (suhu dingin) perlu pemanasan lebih lama. Tarikan semakin kurang enak, namun jika dipaksa pernah bisa menembus 60km/jam di gigi 2 dan 80km/jam di gigi 3, tapi ini sangat jarang terjadi. Entah bagaimana rasanya ada yang “kurang sreg” dengan oli ini. Suhu mesin dirasakan masih stabil, hanya saja suara mesin semakin kasar meski tidak sekasar BM1.

 

Namun Indranesta masih berpikir ini karena faktor lama tidak dipakai, sedangkan oli berikutnya adalah MPX1.

 

Tips hari ini:

Masih tema musim hujan, dengan sedikit banjir. Jangan lupa untuk melumasi rantai, terutama setelah menembus hujan, tentu dengan oli khusus rantai. Oli khusus rantai ada yang lengket, semi lengket, dan licin. Pada saat membeli cobalah dulu sedikit digosok dengan ujung jempol dan telunjuk.

Semoga bermanfaat

 

Update 12 Februari 2010:

Hari ini kilometer di angka 29.250 alias 970km dengan castrol power one. Didapati warna oli mulai gelap meski belum keruh, suara mesin semakin kasar, terutama bunyi knalpot. Akselerasi masih bisa gigi 3 di 80 kpj jika terpaksa. Suhu mesin masih normal meski suara makin kasar. Karena baru upgrade Pilot Jet jadinya lari motor sedikit lebih enak meski “rasa” olinya di blok mesin tetap saja minta diganti baru, semoga minggu depan bisa ganti MPX1 setelah melalui 1000km. (Masih belum menemukan yang jual oli Castrol 10w40)

 

Tips hari ini:

Ada info soal oli Castrol. Baru saja hari ini diskusi dengan mekanik salah satu bengkel langganan, katanya hati-hati dengan Power One botol kuning (15w40) doi pernah menemukan endapan di dasar botol oli baru setelah dituang ke mesin (seperti kerak/pasir halus), rata2 3-4 botol bermasalah dari tiap dus, jadi doi hanya berani jual castrol botol putih (castrol active).  Info ini sekedar alert saja bro n sis biker, karena Indranesta rasa bukan hanya castrol, oli tenar merk lain pun sudah banyak palsunya, adik Indranesta sendiri pernah menemukan beberapa.

 

Update 28 Maret 2010:

Akhirnya, SATU TAHUN  sudah berjalan UJI OLI ini :)

terima kasih atas kesabaran rekan2 biker semua, Indranesta sangat senang bisa berjalan selama ini, ini sekaligus penghargaan untuk rekan2 yang aktif diskusi/komentar, sungguh sangat menginspirasi… lanjuttt…!

 

Mesin Supra X ini akhirnya bisa ganti MPX1 pada km 29.260 alias 980km dengan castrol power1, entah kenapa rasanya sudah tidak sabar rasanya ingin segera ganti oli, sayang sekali Indranesta tidak mendapat kesan memuaskan dari oli ini, meski jika dipaksa masih bisa diajak lari meski berat mesin Supra X nya. Warna oli sudah agak gelap meski tidak keruh, suhu mesin masih stabil.

Kesimpulannya, oli ini tidak bisa lulus uji oli dengan memuaskan, sungguh sayang, padahal oli ini dijagokan…

 

7. MPX – AHM Oil 10w30 Jaso MA

Oli ini masuk mesin Supra X sejak 29.260 dan sekarang sudah di 29.502 berjalan 242km. Belum ada 500km tapi serasa performa tidak jauh beda dengan castrol power1, dan belum bisa diuji maksimal karena masih ada sedikit kendala cakram depan seret. Tapi so far masih bisa gigi 2 di 60kpj dan gigi 3 di 80kpj dengan kondisi mesin seperti dipaksa. Suara mesin halus sesuai karakter 10w30, suhu mesin juga normal, selain itu mekanik langganan tidak menyarankan oli ini dipakai sampai 4000km (Indranesta juga sama, tinggal lihat kinerjanya di 1000km).

 

Tips hari ini:

Aki, jika ingin aki awet, panasi mesin sedikit lebih lama s/d 15-20 menit di pagi hari dan gunakan kick starter, hal ini selain untuk campuran oli mesin juga untuk pengecasan aki dampaknya aki lebih awet.

Untuk aki bekas dihargai 10-20 ribu tergantung tipe dan kondisi pasar saat itu.

Kapan saatnya ganti ban? cek tapak ban, lihat kedalaman garis tapak, jika <1.6mm terutama di bagian tengah, ini sudah saatnya diganti, jangan ambil resiko menunggu sampai gundul. Lagi pun kalau ban yang diganti masih ada tapaknya bisa di tukar tambah dengan harga lumayan.

semoga bermanfaat…

 

Update 11 April 2010:

Oli MPX1 sudah berjalan 538km (29.798-29.260) melewati batas psikologis pertama. Hasilnya mesin masih enak, suara mesin halus dan putaran lancar, suhu tidak panas alias stabil dengan catatan pemanasan pagi hari minimal 15 menit.

Terlebih setelah diservis cuci dan stel ulang karburator, benar-benar terasa encernya oli mpx1.

Akselerasi maksimal, gigi 2 bisa 60kpj, gigi 3 bisa 80kpj, meskipun tidak setiap saat dipaksa seperti itu.

 

Tips hari ini:

Ada tutup oli mesin yang pakai termometer utk pantau suhu mesin, tapi jaman sekarang masih ada yang jual tidak ya? alat ini praktis untuk pantau suhu mesin scr lebih tepat.

Lanjutan ban bekas, biasanya dihargai 5rb-20rb tergantung kondisi, jual ke pedagang ban bekas atau tambal ban yg merangkap pedagang ban bekas.

Semoga bermanfaat…

 

Update 13 Mei 2010:

km di angka 30.383, msh jalan 585km (sedikit ya?) berhubung masih dinas luar kota, jadi jarang dipake, tapi dipanasin rutin min 15 menit tiap pagi.

 

mesin yang jelas masih enak, sedikit lebih boros jd 1:40 karena ganti ban blakang lebar plus gas spontan, akselerasi naik tapi topspeed turun karena gir depan turun jadi 13 dari 14 :)

pergantian gigi masih enak, tarikan oke, suhu masih normal, jika dipaksa top speed masih bisa 90 kpj (mungkin ada perubahan speedometer karena ganti ukuran ban).

Untuk torsi di tanjakan masih bagus, bisa 60kpj gigi 4 sudut 45 derajat panjang trek 400-500m meski ada sedikit power loss saat pindah gigi

 

Indranesta juga sedang mengamati uji oli top 1 di http://www.otomotifnet.com sepertinya menarik disimak

 

Tips hari ini:

Saat ganti oli lebih baik pada saat mesin panas, karena keenceran oli akan lebih mudah mengalir keluar blok mesin, selain itu hati2 dengan suhu mesin yg masih panas bila terkena tangan.

Untuk membantu mengeluarkan sisa oli bisa dengan diselah kick starternya, plus pakai angin kompresor, hanya hati2 dg uap air yg ada di udara kompresor bisa beresiko oksidasi/karat pada dalaman mesin, untuk itu lubang kompresor bisa diberi kain bersih.

semoga bermanfaat… :)

 

Update:28 Juni 2010

Jumat lalu tgl 25 Juni sdh ganti oli. MPX1 diganti sekitar km 30.560 atau sekitar 1300km (30.560-29.260). kenapa sekitar itu? karena bbrp minggu speedometer mati, otomatis tidak bisa ukur jarak tempuh dg akurat, kurang lebih ada 200-300km, jadi ekuivalen dg 1500-1600km running test.

Kondisi saat ganti oli:

- Warna: gelap/hitam, dan tidak bisa diketahui ada tidaknya endapan

- Suara mesin normal, begitu juga suhu mesin

- tarikan masih lumayan, meski sudah berkurang

- suara mesin sedikit kasar

Dari hal ini Indranesta tidak merekomendasikan memakai oli MPX1 lebih dari 1.500km meskipun menurut orang bengkel ada tukang ojek yg berani sampai 3000km.

Kesimpulan : oli MPX1 lulus Uji dengan catatan hanya bagus <500km, harga bagus, dan lumayan cocok/sesuai dengan karakter mesin honda (mungkin lebih pas untuk mesin2 honda keluaran terbaru).

 

8Shell VSX 10w40 API SL Jaso MA

 

Oli penggantinya adalah Shell VSX seharga 50rb/liter, atau 40rb/0.8lt.

So far stasioner bagus, suhu mesin normal, tarikan agak kurang karena faktor baru turun mesin mungkin.

Belum sempat tes top speed dan ekselerasi.

 

Update: 6 Oktober 2010

Mohon maaf rekan2 biker, baru bisa update lagi

selama ini hanya sebatas merespon komen2 di bawah :)

Sekalian mohon maaf lahir batin yaa, mumpung masih syawal

 

selain kedinasan dan lebaran, ada satu kejadian kecelakaan tunggal yg dialami indranesta, jadinya semakin tertunda. Namun edisi lengkapnya ada di tulisan Upgrade performa Supra X, karena ini terkait dengan alat vital motor :)

 

Masih dg oli shell VSX di km 31.661 sudah berjalan 1.101km sejak ganti oli.

Bisa dibayangkan, dalam waktu 4 bulan (juni-sept) jarak tempuh “hanya” 1000-an km..

Kondisi oli saat ini:

- Warna: agak gelap, tapi tidak ketahuan ada tidaknya endapan/serbuk besi

- Suara mesin makin berisik seperti ada gesekan2 dalam mesin, namun suhu mesin terpantau normal

- tarikan masih lumayan, meski sudah berkurang

- top speed dan akselerasi tidak banyak di eksplorasi, hanya sempat dipantau akselerasi masih bisa gigi1 di 40kpj, gigi 2 di 60kpj, gigi 3 di 80kpj, dan tdk berani lebih dari itu :)

- pemanasan pagi hari cukup cepat mencapai stasioner yg stabil, pernah beberapa kali mati sendiri karena putaran karbu kurang pas.

 

Mungkin sebentar lagi sudah saatnya ganti oli, dan siapa yang berikutnya, akan kita lihat nanti, mohon sabar yah..

atau ada usul dari list di atas..??

 

Tips hari ini

Mesin honda dirancang dengan putaran mesin tinggi, jadi sebaiknya biasakan kondisi stasioner rata2 sekitar 1400rpm (bisa disetel di ahass). Indranesta pernah juga menurunkan rpm karena merasa suaranya lebih enak dan ingin bbm lebih irit, tapi ternyata hal ini  berdampak pada kerusakan pompa oli (dan bisa merembet ke part mesin lainnya), terutama saat pemanasan pagi, karena pompa oli baru bekerja pada putaran yang cukup tinggi tsb. Jika rpm rendah, pompa oli tidak bekerja, mesin bekerja tanpa pelumasan, ini artinya beresiko merusak dinding2 dalam mesin. Tidak sebanding dg pengiritan bbm-nya kan?

Semoga berguna… :)

 

Update: 10 Desember 2010

Mohon maaf rekan2 biker, baru bisa update lagi

selama ini hanya sebatas merespon komen2 di bawah :)

 

Kesimpulan dari oli VSX adalah : Tidak lolos uji di mesin Indranesta

Oli Shell VSX ini menurut Indranesta kemahalan dan hanya bagus di awal.

Dengan harga jauh di atas dan kualitas daya tahan masih di bawah Enduro Racing. Oli ini mungkin cocok bagi drag racer atau sirkuit racer yang modelnya tiap turun balap ganti oli.

 

9. Kawasaki Oil 10w40 SL MA 4T

Oli VSX sudah berganti dengan Kawasaki Oil 10w40

Pada km32.453 berikut review pengujiannya:

-  Pemanasan pagi hari sulit, mesin sering mati sendiri, tapi setelah dibersihkan selang udara bawah mesin (cuci steam), pemanasan jadi lancar.

- Kinerja rata2 harian cukup berat, oli ini 10w40 tapi rasanya seperti memakai oli 20w50. Hal ini mungkin karena beda karakter mesin honda dan kawasaki

- Suhu mesin terpantau normal

- Kekuatan di tanjakan lumayan, hanya jika boncengan jadi cepat drop.

- Akselerasi masih di bawah Enduro Racing, top speed belum berani coba

- Suara mesin halus standar

 

Update: 8 April 2011

Oli kawasaki telah diganti pada km34.514 tgl 12 Februari 2011, penggantinya oli Top One 10w40. 2061km berjalan.

sekilas kesan dari oli Kawak:

- Performa masih sedikit kurang memuaskan, mungkin karena beda pabrikan, beda karakter mesin

- Harga oke untuk ukuran 10w40,

- Ekonomis, ukuran 1lt, 4x isi bisa gratis 1x (dari akumulasi 200mlx4) :)

Kesimpulan oli kawasaki: Lulus uji tapi kalau masih mampu silahkan pakai Pertamina Enduro :)

 

10. Top 1 Action Plus 10w40 Jaso MA2 API SG harga 32rb 0.8lt

Review oli Top One 10w40:

- Pemanasan pagi hari mudah, tokcer bener…

- Kinerja rata2 harian lumayan enak, enteng di putaran bawah, meski tarikan mid-high sedang2 saja

- Suhu mesin terpantau normal

- Kekuatan di tanjakan lumayan, hanya jika boncengan jadi cepat drop.

- Akselerasi masih di bawah Enduro Racing, top speed belum berani coba

- Suara mesin halus standar

*catatan: Knalpot ganti ke standar karena razia knalpot racing di Lampung. Jeting kembali ke standar. Dampaknya jalanan jadi lebih tenang, n pedagang knalpot racing sepi orderan :P padahal pakai nobi 3bold+db killer mantap bener buat nanjak… :(

 

Tips hari ini

Jika mesin sulit hidup pagi2 atau sulit start, belum tentu masalah aki, coba cek selang saluran udara di bawah apakah bersih atau tidak, kadang dari luar terlihat bersih, tapi dalamnya ada sumbatan, bisa dibersihkan dg obeng atau lidi.

==

Wah, tak terasa sudah DUA TAHUN sejak tulisan ini terbit.. (feb 2009) :D

terima kasih atensi rekan2 biker semua… hehe

 

 

 

 

 

 

 

 

Mohon maaf pada bro-sis rekan bikers, bbrp hari ini Indranesta menemui sedikit kesulitan utk online.

Mereka-reka Fitur dan Harga All New Vario 125 Helm in PGMFI

Setelah kecewa berat dengan Suzuki NEX yang diperkirakan bisa sama persis dengan Kymco Trend SR (baca di sini), mungkin Vario 125 baru akan jadi sedikit penghibur…

Akhir tahun 2011 Honda meluncurkan Spacy helm in PGMFI, awal tahun 2012 ini kita sudah dihebohkan lagi dengan rencana all new vario…yang dari info2 yg berseliweran di web dan blog ada bocoran bahwa mesinnya akan setipe dg PCX 125, injeksi, fitur ACG, dan helm in, minus ISS.

Nah, kali ini i coba untuk mereka2 spt apa fitur dan harga all new vario ini…

Fitur: harusnya WOW..!

  • Mesin 125cc injeksi (garansi 5th) – wow
  • Radiator – ini std vario
  • idle stop & ACG starter – wow, sama dg PCX
  • Helm(s) in – minimal 2 helm masuk, full face n half face, jadi ga ragu kl mw beli helm yg bagusan… (ini fitur yg bisa ngalahin PCX) :P, tp kl cuma 1 helm aja yg masuk ya ga ada peningkatan dari motor helm in yg lain…
  • front fuel loading – ini fitur menyamai PCX & Trend SR – fuel tank di dek atau bag. depan, kl ini ga ada ya sama aja dg vario lama
  • ground clearance tinggi (>15cm) – idealnya 20cm
  • front kompartemen harus ada, penting utk sarung tangan, hp, botol minum, dll…
  • gantungan barang, di bawah setang + di bawah jok bag. depan (ala vespa)
  • dek rata, jgn macam PCX / yamaha nouvo
  • ruang kaki lega (selonjoran) ala PCX – wow!
  • wajib dual shock – spy bisa samain TSR n Hayate 125
  • pakai win shield ergonomis (optional)
  • fitur2 safety key, side stand switch, aho, dll std matic honda tetap ada

faktor pendukung harga ekonomis :

  • mesin produksi massal internasional (harga bisa ditekan sangat jauhh…)
  • volume produksi jauh lebih besar dari PCX, harga bisa turun lagi
  • rangka-bodi-dll punya kandungan lokal sgt tinggi, beda dg PCX yg full import
  • Iklan n launhcing ga usah pake dana jor-joran, mending buat diskon ajah… secara produk ini sudah menjual dg sendirinya, masyarakat jg sdh pada pinter2 milihnya
  • image bahwa ini motor rakyat jelata, bukan motor premium macam PCX harus dipegang teguh Honda

*jangan sampai kesalahan pricing yg berakibat jualan lelet harus ditebus dengan mbikin model baru lagi, alias ngulang dari awal, makin berdarah2 deh… pisss…

monggo dilanjut diskusinya di bawah yuuk… :D

Menyambut Honda PCX 150

Honda PCX 125 sebentar lagi akan kesaingan oleh all new Vario yg naik kelas ke 125cc, ada yg berprediksi ini akan mengganggu pasar skutik premium Honda PCX 125, benarkah?

i berpendapat vario 125 (yg telat banget hadirnya), sebenarnya tidak mengganggu secara langsung, karena benar2 beda kasta… seperti CBR 150 dg Megapro 150, yg membedakan adl gen, gen harian dan gen balap, kl PCX punya gen premium/mewah, vario punya gen harian/merakyat. artinya, yg beli CBR akan males banget turun kasta beli megapro, yg bisanya beli megapro cuma bisa ngarep2+ngimpi2 doang bisa beli CBR :P begitu juga dg nasib all new vario 125 dan PCX 125 … kesimpulannya? jadi bahan pemikiran calon buyer sih iya, tapi tidak akan mengganggu secara langsung..

kalopun mau muncul PCX 150 toh ternyata “rencananya” masih semester II 2012, ini bisa kuartal 3 or 4 ataupun malah akhir tahun 2012, ini artinya honda tdk perlu terburu2 “menyelamatkan” pasar PCX 125 dg “masukin” PCX 150.

Koreksi Harga PCX 125?

ada juga yg berpendapat harga PCX 125 akan perlu dikoreksi 3-4 juta, jadi 27-28jt supaya PCX 150 bs melenggang lebih leluasa. menurut i, ini juga tidak perlu, coba lihat, CBR 150 dan 250, 35jt dan 39jt, tradisi AHM adalah pantang mengoreksi harga :D (CMIIW) ga bakalan bergerak walaupun dibilang overpriced bla bla bla…sampe berbusa2 :P, jadi, kemungkinan besar, PCX 125 harganya tetap, dg loyal customer yg very segmented, plus kalo jadi ketambahan varian PCX 150 dg harga selisih 1-3jt lbh mahal, that’ll make sense :D

di sisi lain, pihak AHM juga masih dalam tahap mikir2, artinya masih “super sibuk” diskusi rapat panjang plus itung2an njelimet mulai kantor pusat, RnD sampai pabrik plus vendor soal PCX 150 ini, jadi, kapankah PCX 150 masuk Indonesia? May… maybe yes, maybe no… :P

so, tidak perlu ribut2 bin heboh2 amat dg rencana PCX 150, toh masih lama ini… jangan2 sebelum launching sudah keburu kiamat 2012 :P  artinya, kl boleh pinjam bahasa kang TCM, kl blom ada petunjuk dari TPT jgn heboh macem2 dulu laa… :)

lanjut, masih lebih seru ngebahas yg sdh didepan mata, TPT sdh ada, angka target sales sdh ada, yakni all new vario 125, yuk bahas di sini… :D

Property Tips: Pentingkah Kolom Dinding ?

Sedang berencana membeli atau membangun rumah?

Kali ini Indranesta coba share sedikit wawasan soal properti, terutama struktur bangunan domestik (hunian). Hal ini didasari pengamatan atas kekuatan struktur rumah yang masih memprihatinkan di Indonesia.

Struktur rumah disusun dari beberapa hal seperti pondasi dan dinding. Khusus untuk dinding rasanya masih ada masyarakat kita yang suka membangun dinding tanpa struktur kolom.

Oya, sebelumnya perlu dijelaskan sedikit tentang kolom. Kolom (dalam bahasa sipil disebut kolom praktis) adalah tiang beton bertulang besi (mirip Gatotkaca sih emang, otot kawat tulang besi, daging beton :P ) yang fungsinya menopang beban pada dinding rumah. Kolom bentuknya vertikal dengan lebar sekitar 15-20cm sesuai kebutuhan. Biasanya kolom dipasang tiap jarak 3m di dinding. Kalau definisi ilmiahnya silahkan cari sendiri ya :p

Artinya, sangat penting dipahami bahwa batu bata, batako, hebel, atau apalah namanya fungsinya adalah sebagai pengisi dinding saja, dan bukan sebagai penahan beban di atasnya (d.h.i struktur atap dan bangunanlain di atasnya), sedangkan penahan beban sebenarnya adalah struktur kolom.

Pentingkah kolom praktis ini? Jawabnya penting.

Karena kita hidup di negara yang rawan bencana, entah gempa, banjir bandang, tsunami, dll maka rumah dengan dinding yang memiliki kolom praktis akan banyak membantu karena lebih tahan terhadap guncangan. Pada saat gempa di Padang dan Jogja beberapa waktu lalu, Indranesta mendapat melihat foto2 yang mengejutkan bahwa bangunan yang rata dengan tanah alias hancur total adalah bangunan yang tidak memiliki struktur kolom praktis, atau jika ada kolom maka ukuran dan spesifikasinya dibawah standar (tidak memadai). Sedangkan bangunan yang ada kolom yang baik masih bisa bertahan, dan hanya rusak dibagian plesteran dinding atau pengisi dindingnya yang hilang, sedangkan tiang kolom dan atapnya masih berdiri. Pun pada saat tsunami Aceh ada bangunan rumah bertingkat yang masih berdiri sedangkan pengisi dindingnya hilang diterjang air.

Mengapa rumah? karena kebanyakan korban bencana adalah mereka yang diam di rumah, yang seharusnya jadi prioritas keamanan pada saat membangun rumah, namun proses pembangunannya seringkali tidak direncanakan dan diawasi secara baik. Sedangkan perkantoran atau gedung biasanya memiliki konsultan perencana dan pengawas yang memadai sehingga kekuatan strukturnya jauh lebih baik.

Bagaimana jika kita memiliki rumah atau tinggal di rumah yang kita tidak tahu ada kolom praktisnya atau tidak? Akan lebih sulit ketika kita akan membeli rumah bekas atau rumah baru yang dindingnya sudah difinishing, karena kita tidak bisa melihat adanya kolom dinding secara langsung, tapi ada tips yang bisa dilakukan antara lain:

  • Jika bisa, tanyakan ke pemilik rumah, atau tetangga yang melihat proses pembangunan rumah tsb, atau untuk rumah baru juga bisa ditanyakan ke developer, kontraktor, dan atau tukang yang membangunnya. Jika kasusnya di perumahan biasanya ada rumah lain yang sedang dibangun oleh kontraktor atau tukang yang sama, silahkan lihat pada saat dinding belum diplester atau tanyakan langsung pada yang mengerjakan.
  • Jika cara di atas tidak bisa atau kurang meyakinkan, coba naik ke loteng (plafond) — (bagaimana caranya silahkan pikir sendiri :P), di bawah atap biasanya terlihat ada sisi atas dinding yang tidak difinishing. Tukang biasanya tidak mau repot2 merapikan bagian dinding di atas loteng ini, jadi ujung atas besi2 kolom harusnya terlihat jelas. Termasuk jumlah besinya, diameter besi, dan jenis besi yang dipakai, apakah besi banci (KW2) atau besi yang bagus (SNI). Biasanya kalau kontraktor perumahan pakai besi banci untuk hemat biaya produksi, dan kekuatannya jelas beda meskipun diameternya sama.
  • Jika cara di atas tidak bisa juga, silahkan pakai alat pengetes besi kolom yang namanya Rebar Locator untuk melihat ada tidaknya besi kolom di area dinding kita. Cara terakhir ini tidak disarankan karena mahal dan alatnya jarang yang menyewakan, biasanya yang memakai alat ini adalah Lab. Teknik Sipil dan atau pengawas bangunan untuk keperluan QC.

Jika tidak bisa juga, ya berdoa sajalah, semoga tidak terjadi apa2 :D

Demikian semoga membantu :)

Hobby: (pet) Mengapa Hamster..?

 

my roborovsky white face hamster (name: kouri)

 

Daripada sepi2 di rumah akhirnya diputuskan melihara hamster. Masih lebih sopan daripada reptil (ular phyton, kadal gecko, biawak, iguana, dll), lebih murah drpd kucing, anjing (ras), arwana, or koi, n ga serepot kelinci ras.  :D

Kenapa indranesta milih hamster dibanding yg lain..??

  • pasangan ga keberatan, bahkan bisa dilibatkan alias ikut senang, bayangkan kl melihara reptil or ikan buas macam arwana :)
  • praktis, ga butuh tempat luas, n bisa dibawa2 bepergian. Pernah 4 hamster dibawa lebaran-an dari lampung-jakarta (bis), n jakarta-cirebon (KA) pp. hamster bisa menemani perjalanan, coba kl bawa arwana or anjing ras mudik naik angkutan umum :P
  • relatif murah, ga semahal peliharaan yg lain di atas, mulai harga pet, pakan, alat2, dll.
  • mudah, banyak yg jual alat2nya, buat sendiri juga bisa
  • pakan jg mudah dicari/diracik, tdk harus yg bermerk
  • lucu, imut, lincah n bisa dipegang2/elus2 (entertaining). hamster adl peliharaan yg penasaran (ingin tahu), suka bermain dg roller, ini alami, juga suka bercanda dg sesamanya yg akrab/cocok. sangat menyenangkan melihat mereka menghabiskan energi
  • kalau bosan bisa dijual cepat, petshop dg senang hati membelinya (jenis2 tertentu yg banyak peminat)
  • komunitasnya ada, level dunia, indonesia, n kota2 tertentu, jadi bisa banyak2 tanya
  • hobi ini tdk kenal umur, mulai anak2 sampai manula bisa
  • hamster tidak menyebarkan penyakit2 spt pd tikus, kucing, & anjing
  • hamster jenis hewan pengerat yang bersih, suka bersih2, makan dan minum secukupnya, jd tdk harus ditunggui setiap hari. sediakan pakan yg cukup maka dia siap ditinggal beberapa hari
  • bulu hamster sedikit menyebabkan alergi (hipoalergenik), jadi aman bg yg alergi bulu binatang
  • kotoran hamster mini kering dan kecil2, mudah dibersihkan, nyaris tak terlihat. urine hamster jg tdk mudah bau, kecuali jika diberi sayur2an tertentu, jadi tdk perlu sering2 memberishkan kandang, terutama jenis robo.
  • hamster relatif tdk berisik, kecuali sedang bercanda/kawin/berkelahi, suaranya hanya mencicit2 seperti tikus mencit, namun ada juga jenis hamster yang pendiam.
  • hamster adl hewan nocturnal, artinya aktif di malam hari. mereka tidur di siang hari, sesuai habitat aslinya, yakni gurun. cocok utk pekerja kantoran yang pulang sore/malam dan hamster siap menyambut dg penuh energi
  • hamster adl hewan omnivora, makan relatif apa saja, gigi2nya komplit. tapi utamanya mereka cocok dg biji2an (pengerat), dan ini mudah didapat dlm keadaan segar, tapi tentu saja mereka tidak kuat makan yg beraroma n berbumbu kuat.

 

mini (dwarf) hamster - winter white di terrarium

 

Itulah beberapa alasan indranesta memilih hamster, selain itu ada lagi karakteristik hamster:

  • hamster memiliki pandangan yg buruk, mereka berkomunikasi dg bau dan pendengaran, jadi hati2 dg tangan kita, kalau dia tdk cocok/nyaman bisa2 digigit.
  • hamster memiliki ingatan pendek, jadi mudah adaptasi dengan lingkungan dan pasangan baru.
  • hamster adl makanan favorit kucing, adik indranesta di  magelang sudah habis 5 ekor dimakan kucing :(
  • hamster adl musuh tikus, tikus tidak makan hamster, tapi hanya dimatikan saja.
  • habitat di alamnya hamster suka menggali lubang dan membuat jalan, dan di kandang pun demikian, dia suka mengais2  semua sudut kandang sambil mencari makanan dan hal2 baru.
  • hamster tidak kuat panas matahari, suhu tinggi, dan hembusan angin. mereka bisa mati karenanya.
  • tiap hamster adl individu yg unik, alias tdk sama. terutama karakter, spt kesukaan, hobi, pakan favorit, dll. contoh: misal sama2 suka kacang tanah, cara makannya aja bisa beda, ada yg dikupas bersih dulu baru dimakan sampai habis, ada yg dikupas sedikit2 sambil dimakan, ada yg langsung dimakan lantas buang kulit arinya, ada yg sukanya sisa2in makanan buat nanti, dst.

Mohon dimengerti, melihara hamster ini hanya hobi, bukan beternak, jadi bukan business oriented, murni untuk fun saja.

Jenis Hamster

Hamster badan besar/normal: Syrian (uk dewasa 12-16cm).

 

hamster syrian shorthair

 

 

Hamster Syrian Longhair

 

Hamster mini (dwarf): Campbell, Winter white, (uk dewasa 8-12cm) Roborovsky (uk dewasa 5-7cm)

 

hamster campbell panda

 

Langsung saja, indranesta memilih jenis hamster yang jinak dan mini (dwarf), karena ada jenis campbell yang galak (suka gigit jari sampai berdarah), padahal jenis ini warna bulunya paling banyak macamnya, seperti albino mata merah, argente, mottled, coklat, panda, hitam or putih dominan, dll. ciri khususnya ada satu garis di punggung/dorsal, lebih agresif (galak)/suka mengigit jari, makannya lebih banyak, dan bulunya sedikit kasar dibanding jenis lain. Harganya termasuk paling murah dibanding jenis hamster mini lainnya, namun ada juga warna2 tertentu yang diminati jadi harganya lebih mahal seperti motif panda.

 

lomba balap hamster

 

Selain itu ada juga jenis yang besar (non-mini) yakni jenis syrian. Jenis ini ada yang long hair dan short hair, bahkan ada yg hairless (gundul). Ukurannya jelas jauh lebih besar dari yang mini, bisa sebesar marmut. Jelas butuh ruang lebih besar, makan lebih banyak, buang urin & kotoran lebih banyak, lebih sering bersihkan kandang, alias lebih repot, meski harga lebih murah, sepantaran dengan harga jenis campbell tertentu, namun untuk kelas longhair biasanya lebih mahal. Di luar negeri, jenis ini banyak dilombakan, kl di Indonesia rasanya jarang yang minat.

Jadi, pilihan indranesta jatuh ke jenis winter white, hybrid, dan roborovsky.

Jenis2 ini terkenal tidak menggigit. Winter dikenal sbg jenis yg ramah dan mudah jinak, amat jarang mengigit, dan lebih pemalas dibanding campbell, namun tetap bisa berkelahi dg sesamanya yg tdk cocok. Winter punya bulu yg bisa berubah2 warna, terutama saat perubahan musim/suhu, bulu berubah dari gelap ke terang, bahkan dari tipis ke tebal, paling sering ditemui jenis ini mengalami rontok bulu, namun bisa tumbuh lagi dg baik. Jenis ini paling mirip dg campbell, jumlah kromosom jg sama, jadi bisa disilangkan dg campell. Hasil silangan winter dg campbell dikenal dg jenis hybrid, biasanya punya karakter lembut seperti winter, tapi warnanya cerah dan macam2 spt campbell.

 

macam2 varian hamster

 

Warna dasar winter adalah abu2 shg Winter punya 3 varian warna: winter white normal/agouti/tiger (belang2 spt macan, ada hitam, abu2, coklat, kuning), pearl (abu2 putih, atau putih cerah bergaris abu2/hitam), dan safir/saphir (abu2 terang-gelap kadang kecoklatan). semuanya punya ciri 3 garis di punggung, di tepi kiri kanan tipis dan di tengah tebal.

 

winter white normal, safir, golden black eyes, dan blue argente (klik utk memperbesar)

 

Jenis hybrid banyak macamnya. Tdk spt winter atau campbell yg stabil gen warnanya, jenis ini masih belum stabil, dan banyak variasinya, beberapa hasil silangan ada yg menarik/spesial spt golden red eyes (GRE) dan pearl red eyes (PRE), bahkan harganya bisa lebih tinggi dari robo, ini lebih krn faktor selera, keterbatasan stok, dan emosi saja. Seperti genx, harga2 tinggi ini jg tdk stabil :)  Beberapa varian hybrid yg ada antara lain: pearl putih polos (P3), golden black eyes (GBE), dan blue argente (BA).

Jenis Roborovsky lebih dikenal dg nama robo, dikenal sbg jenis paling mini, tapi paling lincah n gesit, larinya sgt cepat, susah dipegang. Jenis ini biasanya hanya utk dilihat saja. Jenis ini juga dikenal paling mahal dg harga stabil, jenis paling top di antara segala jenis hamster, terutama yg muka putih (white face). Ada dua varian warna robo, normal dan muka putih (wf). Robo normal punya ciri alis putih dan bulu warna coklat kekuningan dg semburat putih. Robo wf punya ciri bulu putih dg corak kuning-coklat semburat hitam. Foto paling atas adl kouri, hamster robo wf milik indranesta… :)

Apa saja hamster peliharaan indranesta?  ada robo white face, golden red eyes, pearl red eyes, blue argente, dan safir. Mari simak di tulisan berikutnya :)

Jenis Kucing Favoritku…

Kami sekeluarga suka kucing, kecuali istri dan ibu… maklum, paling ga tahan dg bulu, kotoran, dan kejahilan kucing2 ini…

Semuanya kucing kampung, yg Indranesta sukai dr kucing kampung adalah bulu pendek, sifat tahan sakit, dan tahan cuaca, alias tidak rewel, yg tidak disukai ya cerewetnya itu…plus kutu (jika tak terawat)

Ada pun kucing kampung yg disukai adalah yang:

  • warna putih polos atau hitam polos, atau belang tiga warna (kembang telon) yg ini biasanya betina, krn kalau jantan sdh dimakan induknya sejak bayi, entah kenapa
  • bulu halus, tidak ada bekas luka
  • tulang bagus/kokoh, dada kekar, kepala tegak, punggung lurus
  • santun, tidak jahil, tidak suka ribut, cepat diajari dan adaptasi
  • lincah, suka bermain+pandai tangkap tikus atau serangga pengganggu
  • ekor sempurna (tidak patah/bengkok/pendek)
  • mata besar (belo’) sukur2 yg agak sendu (ujung luar mata menurun)
  • kalau jalan gemulai

Tapi sekarang Indranesta mulai melirik kucing ras, terutama ras yg besar-besar seperti:

  • Maine Coon (MC) dg surai ala singa
  • Norwegian Forest Cat (NFC) dg surai ala singa juga
  • Ragdoll, yg mata biru
  • Turkish Van si perenang unggul
  • Savannah si kucing gurun

Di Indonesia yg mulai dikenal orang dan mulai ada breedernya adalah NFC dan MC, sedangkan Ragdoll sudah ada lebih dulu namun tidak setenar persia dan angora. Untuk Turkish van dan savannah keduanya sangat jarang di Indonesia, dan kalaupun ada mahalll… bisa2 seharga mobil :)

Semoga kesampaian cita2 memelihara kucing besar…Amiin…

*info + gambar menyusul ya…

Maine Coon (MC)

yang spesial, adl bulunya tidak mudah rontok seperti NFC. Jenis ini jarang yang matanya belo’-sendu, kebanyakan berkesan “tajam” disertai warna bulu yang tegas ala macan

Norwegian Forest Cat (NFC)

Tadinya minat yang ini dibanding MC, namun karena ada bakat bulu rontok, akhirnya ga jadi deh…

Ragdoll

Tertarik krn mata biru yang teduh dan tone bulunya yang lembut

Turkish Van

Suka, tapi kuatir dg hobinya main air malah bisa2 merepotkan seisi rumah, kecuali punya kolam renang pribadi, hehe

Savannah

Ini benar2 miniatur leopard, ada yang jenis sedang dan besar. Masih punya habitat ganas, tubuhnya yang langsing punya kemampuan lari yang cepat, bisa2 susah dipegang nih. Jenis ini termasuk jarang dan paling mahal dari ras2 di atas. Kapan ya punya jenis ini …?