What would u be in 100 years later?

Long Life

Mau jadi apa Anda 100 tahun ke depan?

Tidak banyak yang mengajukan pertanyaan ini di pikiran

Cobalah ajukan pertanyaan ini di benak kita

Saya mendapatkan inspirasi ini sekitar bulan 11 2007 ketika membaca sekilas sebuah buku di sebuah perpustakaan, disitu tertulis “semakin jauh visi seseorang, semakin besar persiapan yang diperlukan”. dan betapa saya memerlukan beberapa bulan mencerna kalimat ini

saya termasuk yang berkeyakinan bahwa kita adalah produk dari apa yang kita makan, yang kita pikirkan, dan yang kita lakukan. termasuk di dalamnya apa yang kita masukkan ke dapan alam pikiran kita thus ke alam bawah sadar kita

jika sebagian besar masyarakat meyakini usia produktif mereka adalah 55-60 tahun, dan setelah itu end alias mati, ya akhirnya itulah yang jadi angka harapan hidup rata2 di dalam masyarakat itu. Apa jadinya jika sebagian masyarakat mulai meyakini bahwa usia produktif adalah sampai paling tidak usia 120 tahun, maka kejadiannya saya yakin pasti akan berbeda.

menurut para ahli, salah satunya Dr.Oz di show Oprah Winfrey diketahui bahwa manusia dapat hidup sampai 150 tahun dengan melakukan diet (pembatasan) kalori, dan apes2nya 120 tahun. Baiklah jika demikian bisa diasumsikan bahwa angka harapan hidup manusia normal adalah 120 tahun, bukan 60 atau 70 tahun seperti hari ini. Ini bukan fantastis, tapi batas normal, seperti jaman nenek moyang kita dahulu, di jaman nabi-nabi, bahwa rata-rata umur manusia di atas 100 tahun.

Ketika mengingat kembali hadist yang menyatakan “Bekerjalah engkau seperti engkau akan hidup selamanya…” saya kembali tersentak, betapa pemikiran ini selaras alias kongruen dengan pertanyaan dan fakta di atas. Bahwa tidak ada buruknya berumur panjang, selama kita bisa berkarya, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang sekitar kita terlebih untuk masyarakat luas. Saya pikir kita harus berbuat berpikir beramal sebanyak mungkin selama belum mati dan berusaha mengikhtiarkan bagaimana memperpanjang proses itu, karena kalau kita sudah mati kita praktis tidak bisa berbuat apa pun, pasif, dan kita mungkin akan mati jauh lebih lama dari 120 tahun itu sendiri.

Pernah ada yang bilang, “kurangi tidur, bergiatlah, kamu bisa tidur setelah mati, dan itu lama sekali”, menurut saya paham ini bisa menyesatkan, alias mebuat orang tidak suka (anti) tidur, gila kerja, dan kelelahan, memang mati itu bisa jadi lama sekali tidurnya, tapi selama kita hidup, tidur lah jika itu diperlukan untuk memperpanjang umur, jadikan itu bagian dari ikhtiar untuk mensyukuri nikmat Ilahi yang namanya isitrahat, mimpi, dan membiarkan tubuh membuang racun, sel mati, dan kotoran fisik dan kelelahan psikis, serta membentuk jaringan baru yang lebih sehat dan penuh energi.  

Kembali ke pertanyaan saya di atas, mau jadi apa Anda 100 tahun ke depan?  Lepas dari opsi 100 tahun ke depan Anda masih hidup atau tidak, ini sebaiknya mulai kita pikirkan. Saya sendiri mulai senang memikirkannya, apakah saya 100 tahun ke depan akan melihat jalan raya yang dinamakan dengan nama saya? atau ada universitas yang dinamakan dengan nama saya? atau ada monumen yang didirikan untuk saya? atau buku-buku dan tulisan pemikiran saya menginspirasi sekian banyak manusia? ada berapa banyak masjid yang berdiri atas nama yayasan yang saya dirikan? Seperti apa hasil investasi saya pada saat itu?  

Bagaimana menurut Anda?  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s